Agar Doa Cepat Dikabulkan Allah, Ini Pelajaran Dari Nabi Yunus

501 views

Doa adalah senjata ampuh bagi kita sebagai umat muslim, sehingga kita tidak boleh meninggalkan doa tersebut.

Akan tetapi kita tidak boleh hanya berdoa saja melainkan ada adabnya sehingga doa yang kita panjatkan bisa mengesankan Allah.

Ada salah satu adab berdoa yang bisa mengesankan Allah. Lalu ia mencontohkan doa Rasulullah SAW dalam Al-Qur’an.

Imam Abu Bakr al-Thurthusyi dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu menjelaskan:

ومن آدابه أن تبدأ بتوحيده، كما فعل ذو النون: فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
ناداه بالتوحيد، ثم نزهه عن النقائص والظلم بالتسبيح, ثم باء علي نفسه بالظلم, اعترافا واستحقاقا، قال الله سبحانه: فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ

Loading...

“Sebagian dari adab doa adalah kau memulainya dengan mengesakan Allah seperti yang dilakukan Dzu Nun (QS. Al-Anbiya: 87): ‘Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’

“Dzu Nun (Yunus) menyeru Allah dengan tauhid (pengesaan), kemudian menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan kezaliman dengan tasbih, lalu mengakui dirinya sendiri penuh kezaliman, dengan kesungguhan pengakuan dan perasaan pantas dihukum (istihqâq). Allah subhanahu wata’ala, berfirman (QS. Al-Anbiya’: 88): ‘Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan’.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 21)

Dalam Surat Al-Anbiya ayat 87, Nabi Yunus menggunakan kalimat, “an lâ ilâha illa anta” (bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau) yang merupakan bentuk tauhid (pengesaan) kepada Allah dari sesembahan lainnya.

Dilanjutkan dengan kalimat, “subhânaka” (Maha Suci Engkau) sebagai bentuk penyucian Allah dari segala sesuatu.

Lalu kalimat, “innî kuntu minadh dhâlimîn” (sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang zalim) sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa ketika kita berdoa seharusnya mentauhidkan Allah terlebih dahulu, lalu menyucikan-Nya dari segala sesuatu dan mendzalimkan diri kita sebagai hamba yang penuh dosa, baru setelah itu kita bisa meminta ampun tanpa henti.

Sebab setelah Nabi Yunus ‘alaihissalam terus meminta, Allah menjawab (QS. Al-Anbiya’: 88): “fastajabnâ lahu wa najjaynâhu minal ghamm” (maka Kami perkenankan/kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan). Untuk mengetahui lebih jauh, kita harus memahami terlebih dahulu runtutan kisah Nabi Yunus dalam surat Al-Anbiya’. Berikut runtutannya:

Dalam ayat yang dikutip Imam Abu Bakr al-Thurthusyi dalam penjelasannya, di depan ayat tersebut terdapat kalimat (QS. Al-Anbiya’: 87):

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya).”

Dalam Tafsîr al-Jalalain, maksud kata “mughâdliban” (dalam keadaan marah) adalah untuk kaumnya (li qaumihi).

Kemarahan ini disebabkan oleh perlakuan buruk kaumnya kepadanya hingga ia memilih pergi meninggalkan mereka, padahal Allah belum mengizinkannya (wa lam yu’dzan lahu fî dzalik).

Karena itu, Allah memutuskan untuk mempersempitnya dengan menahannya di dalam perut ikan paus (naqdli mâ qadlaynâhu min habsihi fi bathnil khût aw nudlayyiq ‘alaihi bi dzalik). (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalalain al-Muyassar, Beirut: Maktabah Lubnan Nasyirun, 2003, h. 329)

Setelah berada di perut ikan paus, Nabi Yunus merasakan susahnya tinggal dalam kegelapan, yang dalam Tafsîr al-Jalalain diterangkan dalam tiga bentuk, yaitu, “dhulmatul lail wa dhulmatul bahr wa dhulmat bathnil khût” (kegelapan malam, kegelapan lautan, dan kegelapan perut ikan paus).

Kemudian ia menyeru (berdoa) kepada Allah, “Bahwa tiada tuhan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang zalim.” Kata “al-dhâlimîn” (orang-orang yang zalim) ditafsirkan sebagai, “fî dzahâbî min bain qaumî bilâ idznin” (karena kepergianku dari kaumku tanpa izin). (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalalain al-Muyassar, 2003, h. 329) Dan Allah pun mengabulkan doa Nabi Yunus ‘alaihissalam dengan mengatakan: “maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan.”

Himah yang bisa kita petik dari doa diatas adalah tak ada batasan dalam berdoa, kita bisa berdoa dalam keadaan apa saja dan dilakukan oleh siapa saja, dilakukan orang yang sering melakukan dosa sekalipu, yang terpenting doa yang dipanjatkan hanya kepada Allah.

Dan yang terpenting adalah doa yang kita panjatkan dilakukan berulang-ulang atau secara terus-menerus. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menyebutnya, “al-ilhâh fîd du’â” (mendesak terus/pantang menyerah dalam doa). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda (HR. Imam Abu Nu’aim):

والذي نفسي بيده إن العبد ليدعو الله وهو عليه غضبان، فيعرض عنه، ثم يدعوه فيعرض عنه، ثم يدعوه فيقول الله لملائكته: أبي عبدي يدعو غيري، وقد استجبت له

“Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya ada seorang hamba yang berdoa kepada Allah, tapi Allah sedang murka kepadanya, maka Allah tidak mengindahkan doanya. Kemudian ia berdoa kepada Allah (lagi), Allah tidak mengindahkan doanya (kembali). Kemudian ia berdoa kepada Allah (lagi), lalu Allah berkata kepada para malaikat-Nya: “Hamba-Ku ini tidak mau berdoa kepada selain-Ku, maka Aku sungguh mengabulkan doanya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 21)

Doa yang diulang secara terus-menerus memiliki kemungkinan lebih tinggi dari doa yang hanya sekedarnya saja, bahkan jika doa tersebut dilakukan oleh orang yang sedang Allah murkai.

Akan tetapi kita harus memahaminya, bahwa murka Allah bukanlah hal yang bisa kta kases, yang mana kita tidak pernah tahu siapa yang Allah murkai.

Kita tidak bisa mengatakan bahwa, “Allah murka kepada si A, si B, dan setersunya.” Itu hak mutlak Allah yang tidak bisa kita masuki. Daripada salah dalam prasangka buruk (su’udhan), lebih baik salah dalam prasangka baik (husnudhan).

Hadis diatas juga memiliki arti bawha doa kepada Allah juga menjadi pembuktian keimanan seseorang hingga Allah berfirman: “Hamba-Ku ini tidak mau berdoa kepada selain-Ku, maka Aku sungguh mengabulkan doanya.”

Maka dari itu, ketika kita ingin berdoa maka jangan sampai lupa untuk mengesankan Allah, menyucikan-Nya dan mendzalimkan diri sendiri.

Dan jangan pernah malas untuk mengulang doa kita tanpa henti, sebab semakin sering kita berdoa, maka semakin besar pula doa kita dikabulkan oleh Allah SWT. [nu.or.id]

Tags: #Belajar Doa Dari Nabi Ynus #Doa Nabi Yunus