Amal Jariyah Masjid

160 views

Masjid adalah rumah Allah dan tempat iabdah bagi orang islam, sehingga bagi siapa yang menafkahkan sebagian rezekinya untuk masjid dengan hati ikhlas maka Allah akan bangunkan rumah baginya di surga.

Sebagaimana bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Mafhash qathaah dalam hadits tersebut yang memiliki arti lubang yang digunakan burung untuk menaruk telurnya serta bertempat tingal ditempat tersebut. Dan qathah adalah sejenis burung.Ibnu Hajar dalam Al-Fath (1: 545) menyatakan,

(مَنْ بَنَى مَسْجِدًا) التَّنْكِير فِيهِ لِلشُّيُوعِ فَيَدْخُلُ فِيهِ الْكَبِير وَالصَّغِير ، وَوَقَعَ فِي رِوَايَةِ أَنَس عِنْدَ التِّرْمِذِيِّ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا

“Maksud dari “siapa yang membangun masjid” digunakan isim nakirah yang menunjukkan keumuman, sehingga maksud hadits adalah siapa yang membangun masjid besar maupun kecil. Dalam riwayat Anas yang dikeluarkan oleh Tirmidzi yang mendukung yang menyatakan dengan masjid kecil atau besar.”

hadis diatas hanyalah bahasa hiperbolis, sebab tidak mungkin seukurun telur dan tempat burung bisa dijadikan untuk melaksanakan shalat. Hal ini juga diperkuat oleh riwayat Jabir.

Loading...

Sebagian ulama lainnya menafsirkan hadits tersebut secara tekstual, yang artinya adalah barang siapa yang membangun masjid dengan menambahkan ukuran kecil saja yang dibutuhkan, tambahan tersebut hanyalah seukuran tempat burung telur.

Bisa jadi juga dengan cara para jamaah bekerja sama untuk membangun masjid, dari setiap yng didapatkan dari hal kecil seperti tempat burung tersebut sudah termasuk dalam membangun masjid. Karena pada akhirnya masjid adalah tempat untuk kita melaksanakan shalat.

Dengan demikian dari penejlasan Ibnu Hajar di atas menunjukkan bahwa tidak sepenuhnya membuat masjid ditanggung oleh satu orang, melainkan ada yang menyumbang bata saja, ada yang menyumbang semen saja maka sudah mendapatkan pahala membangun masjid.

Yang Paling Penting Kita Ikhlas Menyumbang Walau Hanya Sedikit
Berapa pun nominal dari sumbangan kita, yang penting adalah ikhlas karena Alah bukan karena yang lainnya. Sebab yang dimaksud lillah itu adalah ikhlas karena Allah (Fath al-Bari, 1: 545).

Jadi pahala besar membangun masjid yang disebutkan diatas hanya bisa kita dapatkan jika kita ikhlas beramal, bukan untuk mencari pujian dan memabalas dari manusia.

Maksud Dari Dibuatkan Bangunan di Syurga
Hadis tentang keutamaan membangun masjid juga dijelaskan oleh Utsman bin Affan. Di masa Utsman yaitu tahun 30 Hijriyah hinggakhilafah beliau berkahir yang disebabkan karena terbunuhnya beliau maka dibangunlah masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Utsman katakan pada mereka bahwa yang membangun sebagai bentuk pengingkaran bahwa banguan mereka terlalu megah. Lalu Utsman membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533).

Menurut Imam Nahrawi Rahimahullah, Maksudah dari akan dibangun baginya ketika di surga nanti memiliki dua tafsiran

  1. Allah akan membangunkan sebuah rumah akan tetapi sifatnya luas dan memiliki arti yang luas yang pastinya memiliki keutamana tersendiri. Karena bangunan disurga tidak bisa dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik didalam hati bagaimana keindahannya.
  2. Keutamaan bangunan yang diperoleh di surga dibanding dengan rumah di surga lainnya adalah seperti keutamaan masjid di dunia dibanding dengan rumah-rumah di dunia. (Syarh Shahih Muslim, 5: 14)

***

Masjid Hanya Untuk Ajang Pamer dan Saling Bangga
Yang tercela adalah ketika membangun masjid hanya dijadikan sebagai ajang perlombaan dan untuk megah-megahan juga bukan berlomba dalam hal kebaikan.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِى الْمَسَاجِدِ

“Kiamat tidaklah terjadi hingga manusia berbangga-bangga dalam membangun masjid” (HR. Abu Daud no. 449, Ibnu Majah no. 739, An-Nasa’i no. Ahmad 19: 372. Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perawinya tsiqah. Al-Hafizh Abu Thahir juga menyimpulkan bahwa sanad hadits ini shahih)

Itulah yang terjadi saat ini bagi kaum muslimin. Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata,

“Yang dimaksud hadits adalah saling menyombongkan diri dengan masjidnya masing-masing. Ada yang nanti berujar, wah masjidku yang paling tinggi, masjidku yang paling luas atau masjidku yang paling bagus. Itu semua dilakukan karena riya’ dan sum’ah, yaitu mencari pujian. Itulah kenyataan yang terjadi pada kaum muslimin saat ini.” (Minhah al-‘Allam, 2: 495).

Itulah tanda kiamat semakin dekat.

Semoga kita bisa melakukan amal jariyah masjid dengan ikhlas sehingga Allah membangunkan kita rumah yang indah dan penuh kenikmatan di surga. [rumaysho.com]

Tags: #Amal Jariyah #Amal Jariyah Masjid