Batalkah Mencicipi Makanan atau Masakan Saat Berpuasa? Ini Penjelasannya

Menu buka puasa haruslah enak dan nikmat. Oleh karena itu setiap orang yang memasak harus mencicipi agar bisa diketahui rasanya.

Para fuqaha, tidak mempersoalkan mencicipi makanan bagi orang yang puasa. Namun sebagian lainnya, ada yang mensyaratkan adanya hajat terhadap hal tersebut.

Adanya Syarat itu sebagai kehati-hatian agar orang yang berpuasa dapat menjaga diri dari hal yang berpotensi bisa membatalkan puasanya.

Suatu riwayat dari Ibnu ‘Abbas menyatakan:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ جَابِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَا بَأْسَ أَنْ يَذُوقَ الْخَلَّ أَوِ الشَّيْءَ مَا لَمْ يَدْخُلْ حَلْقَهُ وَهُوَ صَائِمٌ

“Waqi’ telah menceritakan kepada kami, dari Israil, dari Jabir, dari ‘Atho, dari Ibnu ‘Abbas beliau berkata: ‘Tidak mengapa seseorang yang sedang berpuasa mencicipi cuka atau sesuatu (makanan) selama tidak masuk ke kerongkongannya (H.R. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, no. 9277. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ no 937).”

Penulis kitab Umdah al-Qaari mengutip pendapat lain dari Ibnu ‘Abbas:

Loading...
وَقَالَ ابْن عَبَّاس لَا بَأْس أَن تمضغ الصائمة لصبيها الطَّعَام وَهُوَ قَول الْحسن الْبَصْرِيّ وَالنَّخَعِيّ

“Ibnu ‘Abbas berkata: ‘Tidak mengapa seorang wanita yang sedang berpuasa mengunyah makanan untuk anak bayinya. Imam al-Hasan al-Bashri dan Imam an-Nakha’I juga berpendapat demikian (‘Umdah al-Qaari Syarh Shahih al-Bukhari, XI: 12).”

Mencicipi makanan hukumnya boleh selama tidak masuk ke tenggorokan. Dalam sebuah riwayat lain, Ibnu ‘Abbas tidak menganggap itu hal yang membatalkan puasa. Meskipun demikian, Imam Malik tidak menyukai apabila orang berpuasa mencicipi makanan.

وقال مالك أكرهه ولا يفطر إن لم يدخل حلقه

“Imam Malik berkata: ‘Aku tidak menyukainya (orang berpuasa mencicipi makanan –pent), namun puasanya tidak batal jika (makanan) tidak masuk ke kerongkongannya (at-Taudlih Li Syarh al-Jami’ ash-Shahih, XIII: 201).”

Lalu bagaimana jika secuil makanan yang dicicipi tertelan tidak sengaja atau lupa?

Suatu riwayat dari Ibnu ‘Abbas menerangkan:

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Dari ‘Ubaid bin ‘Umair, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi saw bersabda: ‘Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan (yang tanpa sengaja) dan (kesalahan karena) lupa dari umatku serta kesalahan yang terpaksa dilakukan [Dirwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 2045), al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (VII/356-357), al-Hakim (II/198). Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ (no. 82)].”

Dalam riwayat yang lain, Rasulallah saw bersabda:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah beliau berkata; Rasulallah saw bersabda: ‘Siapa saja yang lupa ketika puasa kemudian makan atau minum maka hendaknya dia sempurnakan puasanya, karena Allah lah yang telah memberinya makan atau minum (Muttafaq ‘Alaih).”

Menurut mayoritas ulama mengatakan bahwa lupa ketika puasa hukum puasanya tetap sah dan tak usah meng-qadla puasanya itu.

Tags: #Buka Puasa #Cicipi Makanan #Menu Buka