Berhubungan Badan Saat Haid, Ini Dendanya

277 views

Haid adalah siklus bulanan yang biasa terjadi pada setiap perempuan. Siklus ini memberikan bermacam konsekuensi. Seperti berhubungan intim bagi mereka yang sudah memiliki suami.

Keharamannya sudah dituliskan dalam Alquran.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: Haid itu adalah kotoran. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.

Apabila mereka telah suci, campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.

Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS al-Baqarah: 222).

Loading...

Ustazah Aini Aryani memaparkan bahwa ulama fikih sepakat bahwa melakukan jimak saat haid adalah dosa besar.

Menurut salah satu Ulama Syafi’iyah suami istri yang melakukannya akan di kenai denda masing-masing satu dinar jika berjimak pada awal haid dan seperlima dinar jika pertengahan-akhir haid.

Ulama dari kalangan mazhab Syafi’i berpendapat bahwa sepasang suami istri yang melakukannya dikenai denda masing-masing satu dinar

Pendapat di atas didukung oleh

Ulama dari mazhab Hanafi sependapat dengan pendapat di atas. Tetapi, mengenai sola dendanya  mazhab Hanafi berpendapat bahwa diwajibkan pada suami bukan istri. Sebab larangan itu tertuju ke suami.

Pendapat-pendapat di atas berdasarkan pada hadis berikut, “Seorang laki-laki men-jimak istrinya yang sedang haid,

apabila itu dilakukan saat darah haid istrinya berwarna merah maka dikenai denda satu dinar,

sedangkan jika dilakukan saat darahnya sudah berwarna kekuningan, dendanya seperlima dinar.” (HR Tirmidzi).

Adapun Ulama dari mazhab Hambali beerpendapat keduanya (suami-istri) sama-sama dikenai denda setengah dinar baik jimak itu dilakukan di awal, pertengahan, atau akhir masa haid.

Dan Mazhab Maliki berpendapat, tidak ada denda baik atas si suami atau si istri. Mengenai pembayaran denda belum tentu menghapus dosa yang telah dilakukannya.

So, sebenarnya tidak cukup hanya dengan membayar denda seperti yang dijelaskan di atas.

Tapi harus bertobat kepada Allah, menyesali perbuatan yang telah dilakukan dan tidak akan mengulangi kesalahan tersebut.

Tags: #Hubungan Badan #Suami Istri #Wanita Haid