Bolehkah Berdoa di Media Sosial yang Bersifat Privasi?

Berdoa dimanapun boleh-boleh saja kecuali pada tempat-tempat yang memang dilarang syariat.

Lantas, bagaimana hukum berdoa di media sosial (facebook, twitter, status BBM, display picture BBM, photo di facebook/twitter dan semisalnya)

Berdoa di medsos tak ada masalah, yang penting mengikuti kaidah-kaidah yang tidak melanggar syariat.

Seperti halnya doa-doa yang dibaca oleh khatib ketika khutbah jumat. Atau doa yang dibaca di tempat umum, di hadapan banyak masyarakat.

Cuman ada beberapa kasus tertentu  yang perlu diperhatikan jiak  doa di sosial media, antara lain adalah:

Pertama, Doa Kebaikan
Membuat status dengan isi doa di sosmed tujuannya  mengajarkan doa yang shahih kepada orang lain.

Loading...

Contoh  memposting doa hendak tidur, atau bangun tidur atau dzikir pagi petang dan doa yang lain yang sekiranya mengingatkan orang lain.

Aktifitas seperti ini termasuk amal sholeh. Mengingatkan kebaikan kepada kawan di sosial media agar  melakukan amalan sunah.

Sehingga harus  kita pastikan, doa yang kita posting di medsos, telah terjamin keshahihannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan bahwa orang yang memotivasi orang lain untuk berbuat baik, dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.

Dalam hadis dari Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Siapa yang menunjukkan kebaikan, dia akan mendapatkan pahala seperti pahala pelakunya (orang yang mengikutinya). (HR. Muslim 1893).

Kedua, Doa Pribadi
Doa pribadi yang tak layak didengar orang lain, sebaiknya jangan  disebarkan di sosmed.

Contoh  doa  penyesalan atas perbuatan maksiat dengan menyebutkan bentuk maksiat yang dilakukan.

Atau doa yang sangat privasi yang tidak selayaknya dibaca orang lain sebaiknya jangan posting di medsos.

Kita selalu diajarkan agar menjaga kehormatan, dan tidak membeberkan aib pribadi kepada siapapun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Setiap umatku dimaafkan (kesalahannya) kecuali orang-orang melakukan mujaharah (terang-terangan bermaksiat), dan termasuk sikap mujaharah adalah seseorang melakukan sebuah perbuatan dosa di malam hari,

kemudian pagi harinya dia membuka rahasianya dan mengatakan, ‘Wahai fulan, tadi malam aku melakukan seperti ini, seperti ini’,

padahal Allah telah menutupi dosanya. Di malam hari, Allah tutupi dosanya, namun di pagi hari, dia singkap tabir Allah pada dirinya. (HR. Bukhari 6069).

Syariat juga mengajarkan supaya  tidak gampang mengeluh  kepada orang lain. Sikap mengeluh  menunjukkan kurangnya tawakkal.

Nabi Ya’kub, ketika mendapatkan ujian kesedian yang mendalam dia mengeluh pada Allah, beliau mengatakan,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku..” (QS. Yusuf: 86)

Tags: #Doa Di Medsos #Doa Privasi #Hukum Berdoa