Dalil Amal Jariyah

695 views

Dalam islam banyak amalan yang mengandung pahala, namun belum tentu amalan tersebut akan tetap mengalir walau orangnya sudah tiada.

Namun khusus amalan ini akan tetap mengaliar sekalipun orangnya sudah meninggal, yaitu disebut dengan amal jariyah.

Yang mana dalam hal ini akan tetap mengalir dan tidak terputus meskipun yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sebagimana hadist Nabi berikut.

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ؛ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim)

Hadis Nabi diatas menjelaskan tentang pahala yang tidak akan terputus meskipun seseorang tersebut telah meninggal dunia. Cara agar mendapatkan pahala tersebut yaitu berbuat amal jariyah.

Apa Amal Jariyah Itu?
Menurut Bahasa, amal jariyah adalah perbuatan yang terpuji.

Loading...

Menurut Syara’, amal jariyah adalah memberikan sesuatu yang bermnafaat serta demi kemaslahan untuk mendepatkan diri kepada Allah.

Pada dasarnya keimanan dan kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari shalat yang ia kerjakan atau pun ibadah lainnya, melainkan dilihat dari bagaimana cara ia memeprlaakukan orang lain.

Contohnya bagaimana cara ia menafkahkan sebagian hartanya dijalan Allah, entah dengan bersedekah, membangun masjid, membangu sekolah, mewakafkah Al-Qur’an, dan bentuk kebajikan lainnya. Allah SWT berfirman:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imron: 92)

Amal jariyah memiliki arti, bahwa sesuatu yang kita kerjakan yang menyebabkan datangnya pahala yang sangat besar bagi yang mengerjakannya walaupun yang bersangkutan meninggal dunia.

Hukum Amal Jariyah
Amal jariyah adalah amal yang terpuji disis Allah SWT serta memiliki kedudukan yang sangat tinggi dihadapan Allah SWT.

Walaupun bukan kewajiban, namun di dsalam syariat islam kita sangat dianjurkan untuk melakukan hal tersebut meskipun sedikit. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

لا تستحيوا من إعطاء القليل فإن الحرمان أقل منه

“Jangan kamu malu dengan pemberian yang sedikit kerana tidak memberi langsung lebih sedikit daripadanya.”

Namun amal jariyah yang kita lakukan harus memiliki dasar hukum yang kuat yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebagaimana hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Barang siapa yang melakukan amalan tanpa ada dasarnya dari kami maka tertolak.”

Ketika beramal jariyah maka tidak boleh menyebut pemberiannya hingga menyakiti orang yang menerima bantuan. Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. al- Baqarah: 262)

Keutamaan Amal Jariyah
Rasulullah Shalallahu Alaihi wassalam bersabda:

ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja : (1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia (2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’ Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama, (3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah, (4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” (HR. At- Tirmidzi dan Ahmad)

Firman Allah SWT:

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 261)

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah: 271)

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا ٣٦ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا ٣٧

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri, (yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.” (QS. an- Nisa: 36-37)

Dari firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 261 dan 271, surat an-Nisa ayat 36-37, serta Hadist Riwayat at-Tirmidzi dan Ahmad di atas, maka bisa disimpulkan tentang berbagai keutamaan dari amal jariyah, diantaranya:

  • Orang yang mengerjakan amal jariyah atau shodaqoh tidak akan mengurangi hartanya justru akan bertambah dengan membukakan rezeki bagi pelakunya.
  • Yang mengerjakan amal jariyah memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT
  • Allah SWT akan melipat gandakan pahala bagi orang yang melakukan amal jariyah, pahal tersebut tidak akan terputus meskipun yang bersangkutan telah meninggal dunia.
  • Allah hapus segala kesalahan serta dosa-dosa bagi pelaku amal jariyah
  • Dengan mengerjakan amal jariyah, pintu keburukan akan tertutup dan pintu-pintu kebaikan akan terbuka dengan sangat lebar
  • Amal jariyah yang kita laksanakan merupakan bentuk rasa syukur kita atas karunia yang sudah Allah berikan, selain itu perbuatan tersebut bisa mencerminkan keimana seorang hamba kepada penciptanya.
  • Amal jariyah bisa membersihkan jiwa seseorang dari sifat sombong, sifat kikir dan tamak. Sebab sifat tersebut bisa mengantarkna seseorang ke dalam siksa api neraka.

Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa adanya keutamaan amal jariyah tersebut kita bisa melihat bahwa amal jariyah adalah salah satu langkah bagi kita untuk menghadapi hari akhir. Allah SWT berfirman dalam surat al-Kahfi ayat 46:

المالُ وَالبَنونَ زينَةُ الحَيوةِ الدُّنيا وَالبقِيتُ الصّلِحتُ خَيرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوابًا وَخَيرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”

Apa Saja Bentuk Amal Jariyah?
Dari hadis Nabi Muhammad SAW diatas sudah dijelaskan bahwa amalan yang tidak akan terputus meskipun sudah meninggal dunia.

1. Sedekah Jariyah
Sedekah jariyah yang merupakan adalah suatu bentuk yang tidak akan pernah terputus walaupun pelakunya sudah meninggal dunia, selama yang disedekahkan membawa manfaat bagi orang lain.

Contoh menyedekahkan sebagai harta yang dimiliki untuk membangun masjid, madrasah, sekolah juga pembangunan jalan, jembatan serta lainnya.

Syariat silam tidak mewajibkan ummatnya untuk bersedekah dalam jumlah yang banyak, cukup bersedekah dengan kemampuan kita. Sebab sekecil apapun sedekah yang kita berikan Allah akan tetap memberi ganjaran bagi pelakunya. Firman Allah SWT:

فَمَن يَّعمَل مِثقَالَ ذَرَّةٍ خَيرًا يَّرَه

“Maka Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar Zarrah, niscaya dia akan melihat (Balasan) nya.” (QS. al-Zalzalah: 7)

Apakah Sedekah Hanya Berupa Materi Saja?
Sedekah itu bukan hanya berbentuk materi saja, namun juga berbentuk lainnya. Nabi Muhammad SAW Bersabda:

“Setiap ruas tulang manusia itu disedekahi (oleh pemiliknya) setiap hari. berlaku adil di antara dua orang (yang sedang berselisih) merupakan sedekah, membantu orang yang hendak menaiki tunggangannya atau memuatkan barang ke punggungnya adalah sedekah, usapan yang baik adalah sedekah, dan menyingkirkan sesuatu yang membuat sakit orang dari jalan adalah juga sedekah.” (HR. Bukhari)

2. Ilmu yang Bermnafaat
Dengan ilmu yang kita miliki kita bisa menyebarkan ilmu kita kepada orang lain sehingga bermanfaat bagi yang mendapatkan ilmu tersebut.

3. Anak yang Sholeh
Orang tua mana yang tidak bahgaia jika memiliki anak yang shaleh, sebab anak-anak yang shaleh akan mendaoakan orang tunya baik ketika masih hidup dan apalagi sudah meninggal dunia. [dalamislam.com]

Tags: #Amal Jariyah #Bentuk Amal Jariyah #Dalil Tentang Amal Jariyah