Hadits Tentang Hukuman Zina yang Harus Anda Tahu

2981 views

Zina di dalam agama Islam adalah perbuatan tercela yang jika dilakukan akan mendapat siksaan berat dari Allah kelak.

Nabi Muhammad pun juga sangat tegas tentang hukum dan hukuman zina ini. Sehingg, ada banyak sekali hadits-hadits dan mudah sekali kita dapatkan.

Berikut ini beberapa kumpulan hadits yang bisa anda baca sebagai pendoman hidup agar terhindari dari perbuatan zina,

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ ؟، قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ للَِّهِ نِداً وَهُوَ خَلَقَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ ، قُلْتُ:ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيْلَةَ جَارِكَ

“Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Dosa apakah yang paling besar ? Beliau menjawab : Engkau menjadikan tandingan atau sekutu bagi Allah , padahal Allah Azza wa Jalla telah menciptakanmu. Aku bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab: Membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Aku bertanya lagi : Kemudian apa ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab lagi: Kamu berzina dengan istri tetanggamu.”

Hadits diatas Nabi mempertegas bahwa zina itu perbautan haram, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu.

Selanjutnya tentang hadits zina Muhshân. Zina al-Muhshân adalah perbuatan pezina yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Hukuman untuk pezina Muhshân adalah rajam (dilempar dengan batu) sampai mati.

Loading...

Tidak hanya hanya hadits, hukuman ini berdasarkan al-Qur’an, hadits mutawatir dan ijma’ kaum muslimin. Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘anh menjelaskan dalam khuthbahnya:

إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ عَلَى نَبِيِّهِ الْقُرْآنَ وَكَانَ فِيْمَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ فَقَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا وَرَجَمَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ وَ أَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُوْلُوْا : لاَ نَجِدُ الرَّجْمَ فِيْ كِتَابِ الله فَيَضِلُّوْا بِتَرْكِ فَرِيْضَةٍ أَنْزَلَهَا اللهُ وَ ِإِنَّ الرَّجْمَ حَقٌّ ثَابِتٌ فِيْ كِتَابِ اللهِ عَلَى مَنْ زَنَا إِذَا أَحْصَنَ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَل أَوْ الإِعْتِرَاف.

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan al-Qur’an kepada NabiNya dan diantara yang diturunkan kepada beliau adalah ayat Rajam. Kami telah membaca, memahami dan mengetahui ayat itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan hukuman rajam dan kamipun telah melaksanakannya setelah beliau. Aku khawatir apabila zaman telah berlalu lama, akan ada orang-orang yang mengatakan: “Kami tidak mendapatkan hukuman rajam dalam kitab Allah!” sehingga mereka sesat lantaran meninggalkan kewajiban yang Allah Azza wa Jalla telah turunkan. Sungguh (hukuman) rajam adalah benar dan ada dalam kitab Allah untuk orang yang berzina apabila telah pernah menikah (al-Muhshân), bila telah terbukti dengan pesaksian atau kehamilan atau pengakuan sendiri”.

Tentang zina Muhshan ini, banyak ulama yang mengutip kesaksian khalifah Umar bin al-Khatthâb.

Suatu ketika, sayyidina Umar berkhutbah diatas mimbar Nabi Muhammad yang dihadiri oleh banyak sahabat Nabi yang lain. Dalam khutbahnya tentang zina Muhshan tidak ada satu pun sahabat yang mengingkarinya.

Ayat rajam untuk pezina Mushshan diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Mâjah berikut ini:

وَالشَّيْخُ وَالشَّيْخَةُ إِذَا زَنَيَا فَارْجُمُوْهُمَا الْبَتَهْ نَكَلاً مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Syaikh lelaki dan perempuan apabila keduanya berzina maka rajamlah keduanya sebagai balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”

Hukuman maksimal bagi pezina Muhshan, yaitu dihukum mati dengan cara dirajam, bisa diringankan jika pelaku ada udzur yang dibenarkan oleh syari’at Islam.

Hukuman rajam diganti dengan hukuman cambuk hingga menimbulkan efek jera bagi pelaku, setelah itu diasingkan selama satu tahun. Nabi Muhammad bersabda:

خُذُوْا عَنِّيْ ، خُذُوْا عَنِّيْ ، قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً ، الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جِلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيْبُ عَامٍ

“Ambillah dariku! ambillah dariku! Sungguh Allah telah menjadikan bagi mereka jalan, yang belum al-muhshaan dikenakan seratus dera dan diasingkan setahun.” [HR Muslim].

Menurut Ibnu Taimiyah: “Jika tidak muhshân, maka dicambuk 100 kali, berdasarkan al-Qur’an dan diasingkan 1 tahun dengan dasar sunnah Nabi” [almanhaj.or.id]

Tags: #Hukuman Zina #Perbuatan Zina #Zina Muhshan