Haid Selesai Tapi Belum Mandi Suci, Lalu Berhubungan Intim. Ini Hukumnya

1290 views

Bagi perempuan yang haid ada baberapa hal yang dilarang, selain melaksanakan shalat dan puasa juga tidak boleh melakukan hubungan badan dengan suami hingga ia bersih dari haid.

Lalu bagaimana hukumnya jika berhubungan intim setelah darah haid tidak keluar lagi namun belum mandi wajib?

Jawabannya adalah, melakukan hubungan badan ketika seorang istri masih berada dalam masa haid adalah haram atau terlarang, hal ini berdasarkan firman Allah:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ

“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu …” (QS. al-Baqarah: 222).

Ibnu Katsir dalam kitabnya juga menjelaskan seperti berikut,

ونهي عن قربانهن بالجماع ما دام الحيض موجودا, ومفهومه حله إذا انقطع

“dan (Allah) melarang untuk mendekati mereka (para istri) dengan melakukan jima’ (hubungan badan) selama haid masih ada, dan bisa dipahami bahwa: jika haid telah selesai maka kembali menjadi halal” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim: 1/439).

Loading...

Perempuan yang sudah selesai haid dan darahnya sudah berhenti keluar maka ia wajib segera mandi wajib dan mensucikan diri.

Agar ia bisa kembali melakukan kewajibannya selama ia haid. Seperti shalat, puasa, melayani suami dan lain-lain.

Mayoritas ulama sepakat bahwa manji wajib setelah haid adalah sebagai syarat diperbolehkannya melakukan hubungan badan, sebagaimana Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:

أن وطع الحائض قبل الغسل حرام, وإن انقطع دمها في قول أكثر أهل العلم

“Bahwa sesungguhnya berhubungan intim dengan wanita yang sedang haid sebelum melakukan mandi wajib hukumnya haram, walaupun darah haid nya telah berhenti, sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ahli ilmu” (al-Mughni: 1/384).

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

لا يجوز وطء الحائض والنفساء حتى يغتسلا, فإن عدمت الماء أو خافت الضرر باستعمالها الماء لمرض أو برد شديد تتيمم, وتوطأ بعد ذلك, بقوله تعالى: (ولا تقربوهن حتى يطهرن) أي ينقطع الدم, (فإذا تطهرن): اي اغتسلن بالماء.

“Tidak boleh behubungan intim dengan wanita haid dan nifas sampai melakukan mandi wajid, apabila air tidak ada atau wanita tersebut ditakutkan terjadinya bahaya jika menggunakan air karena sakit atau dingin yang sangat maka hendaklah ia ber-tayammum, dan dibolehkan melakukan hubungan intim setelah itu, berdasarkan firman Allah Ta’ala: “dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci” yaitu: berhentinya darah haid, “Maka apabila mereka telah suci” yaitu: mereka telah melakukan mandi wajib”. (Majmuatul Fatawa: 11/359).

Selain itu, juga ada tafsir dari ayah suci al-Qur’an, yaitu:

فإذا تطهرن فأتوهن

“Apabila mereka telah bersuci maka campurilah mereka.”

Ibnu ‘Abbas yang dikenal sebagai ulama tafsir berpendapat:

إذا اغتسلن…. فشرط لأباحة الوطء شرطين: انقطاع الدم والاغتسال, فلا يباح إلا بهما

“(Yaitu) apabila mereka telah melakukan mandi wajib”, Maka beliau (Ibnu Abbas) mensyaratkan bolehnya melakukan hubungan intim dengan 2 syarat; 1. Berhentinya darah haid, 2. Mandi wajib, maka tidak dibolehkan melakukan hubungan intim keculi jika dua syarat tersebut sudah terpenuhi”. (Al-Mughni: 2/384).

Tapi, dalam hal ini ada pendapat berbeda yang dikemukakan oleh Mazhab Hanafi:

“قالو: يحل للرجل أن يأتي امرأته حتى انقطع دم الحيض والنفاس لأكثر مدة الحيض وهي عشرة أيام كاملة, ولأكثر مدة النفاس, وهي أربعون يوما, وإن لم تغتسل.

“Mereka berkata: Dibolehkan bagi laki-laki mendatangi istrinya jika telah berhenti darah haid dan nifas yaitu setelah berlalunya batasan waktu terlama haid 10 hari, dan waktu terlama untuk nifas 40 hari, walaupun belum melakukan mandi wajib” (al-Fiqhu ‘alal Mazahibil ‘Arba’ah: 73).

Mayoritas ulama mengatakan bahwa pendapat dari mazhab Hanafi disini sangat lemah, dan rajhnya adalah pendapat yang mengatakan bahwa syarat untuk melakukan hubungan badan setelah istri selesai haid adalah mandi wajib.

Jadi kita suami istri tetap melakukan hubungan badan sebelum istri mensucikan diri walau darah haid sudah tidak keluar lagi hukumnya adalah haram. [konsultasisyariah.com]

Tags: #Hubungan Intim Setelah Haid #Hukum Berhubungan Sebelum Mandi Suci