Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Sepasang Kekasih Ketika Sudah Tunangan

Tunangan atau bertunangan dalam KBBI memiliki arti bersepakat akan menjadi suami istri.

Dalam artian acara tersebut adalah proses menjalin komitmen antara laki-laki dan perempuan yang dipilihnya, biasanya ditandai dengan tukar cincin sebagai tanda ikatan tunangan.

Realita prakteknya tiap daerah banyak yang tidak sama, dengan istilah yang berbeda-beda pula namun inti acaranya tidak jauh berbeda.

Dalam Islam, proses melamar atau bertunangan biasa dikenal dengan “khitbah”. Istilah tersebut hadir dalam syariat Islam berdasarkan hadis Nabi yang berbunyi:

عن ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا كَانَ يَقُولُ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَلَا يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ – رواه البخارى

“Bahwa Ibnu Umar ra. [diriwayatkan] berkata, Nabi saw. telah melarang sebagian kalian untuk berjual beli atas jual beli saudaranya, dan janganlah seseorang meminang atas pinangan orang lain sehingga ia meninggalkannya atau ia telah diberi izin oleh sang peminang pertama.” [HR. al-Bukhari].

Loading...

Adapun hubungan antara laki-laki dan wanita tunangannya adalah tetap harus menjaga seperti pada umumnya seorang muslim.

Belum ada kewajiban-kewajiban dari laki-laki atau wanita tunangannya dan tidak leluasa untuk melakukan berbagai tindakan sebagiamana layaknya pasangan suami istri, seperti berduaan, berpelukan atau hidup serumah.

Hal tersebut senada dengan apa yang ditegaskan dalam hadis Nabi saw:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ – رواه البخاري ومسلم

“Dari Ibnu Abbas [diriwayatkan] dari Nabi saw., beliau bersabda: Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Dan bagi mereka yang telah melaksanakan tunangan, hendaknya tidak menunda dengan waktu yang cukup lama.

Bersegeralah menikah, untuk menghindari fitnah atau berbagai sesuatu yang belum halal untuk dinikmati berdua. Sebagaimana Nabi yang telah mengingatkan dalam hadisnya,

لَقَدْ قَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاء

“Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda kepada kita: Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan menanggung beban pernikahan, maka hendaklah ia menikah, dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena hal itu akan lebih bisa meredakan gejolaknya”

Sumber: bincangsyariah.com

Tags: #Hukum Bertunangan #Setelah Bertunangan #Status Tunangan

Author: 
    author