Hamil Dari Hasil Perkosaan Bolehkah Digugurkan?

188 views

Menggugurkan kandungan dilarang dalam islam. Tapi masih sering kita temukan orang yang hamil menggugurkan kandungannya karena beberapa alasan.

Bagaimana hukum  menggugurkan kandungan dari hasil pemerkosaan?

K.H. Husein Muhammad dalam buku Fiqh Perempuan  menuturkan bahwa  pengguguran kandungan pada usia empat bulan hukumnya haram.

Pada usia yang mencapai empat bulan  janin dalam rahim sudah dalam keadaan hidup. Dan membunuh dengan alasan apapun adaslah perbuatan yang diharamkan wallau membahayakan pada si ibu.

Para ulama berpijak dalam firman Allah surat Al-Isra’ ayat 33 :

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

Loading...

Wa lā taqtulun-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqq. “

…Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, kecuali dengan kebenaran (haq)…”

Adapun pada usia di bawah empat bulan terjadi perdebatan pendapat ulama fiqh.

Menurut Al-Ghazali dari mahzab Syafi’I pertumbuhan janin dalam tahap apa saja dilarang.

Menurut Ar-Ramli boleh menggugurkan dengan tingkatan jauh dekatnya usia janin. Mahzab lain juga ada yang mengatakan pengguguran karena zina, sejumlah ulama mazhab Syafi’I membolehkan.

Menurut Kajian Fiqh Kontemporer dalam majalah Al-Buhuts Al-Fiqhiyah Al-Mu’ashirah, terbitan Riyadh menyuguhkan jalan tengah bahwa;

“Jika perempuan itu sebelum berakhirnya usia janin 120 hari dapat meyakini bahwa kandungannya akibat pemerkosaan (berdasarkan keterangan dokter), maka pengguguran setelah 120 hari adalah boleh.”

Kemudian dijelaskan “Apabila dia tidak merasa yakin mengenai keadaannya sesudah terjadinya perkosaan itu karena beberapa sebab yang dibenarkan agama (al-a’dzar al-syar’iyyah) dan usia jani sudah melebihi 120 hari,

maka kaidah agama memberikan peluang bagi pengguguran tersebut seperti dalam keadaan darurat, tetapi dia harus membayar kifarat (tebusan).”

Menurut majalah itu, wanita diperkosa biasanya jiwanya menderita dan juga fisiknya jadi, pengguguran dalam hal ini dipandang lebih ringan daripada kematian.

Jika perempuan yang diperkosa kuat mentalnya dan tidak menimbulkan akibat buruk maka wajib tidak melakukan pengguguran.

Jadi dalam kondisi delimatis pengguguran dalam kasus perkosaan bisa dibenerkan. Dalam bahasa fiqh yang disebut al-akhdz bi akhaff al-dhararayn yaitu memilih hal buruk daripada yang lebih buruk.

Dalam kaidah fiqh dikatakan; idza ta’aradha al-mafsadatan ru’iya a’zhamuhuma dhararan,

Jika berhadapan dua bahaya (keburukan), maka yang harus dijaga (dilindungi) adalah yang paling buruk.

Tags: #Anak Diperkosa #Anak Zina #Hukum Aborsi