Hukum Berkurban Dengan Hewan yang Hamil

78 views

Bagi yang ingin berkurban, hendaknya mengetahui cara memilihnya. Yang jelas dalam memilih hewan kurban tidask boleh yang cacat.

Lantas, Bolehkah berkurban dengan hewan hamil?

Terjadi perbedaan pendapat  di kalngan para ulama berkurban hewan hamil. Jumhur (mayoritas ulama’) berpendapat memperbolehkan berkurban dengan hewan yang hamil.

Dalam Al-Mausu’ah Al-Kuwaitiyah, (16/281) disebutkan, “Mayoritas ulama’ fikih (jumhur) tidak menyebutkan bahwa hamil termasuk cacat dalam berkurban.

Berbeda dengan Syafiyyah di mana mereka dengan jelas mengatakan tidak diterima hewan hamil untuk kurban.

Karena hamil termasuk merusak yang di dalam sehingga dagingnya menjadi jelek.”

Loading...

Dalam kitab ‘Hasyiyah Al-Bujairimy ‘alal Khotib, (4/335) termasuk kitab syafiiyyah,”Hewan hamil tidak diterima, dan ini yang menjadi patokan (dalam madzhab) karena hamil mengurangi dagingnya.

Dan termasuk dihitung secara utuh dalam zakat karena maksud dalam zakat adalah keturunannya bukan nikmat dagingnya.”

Yang terkuat adalah bahwa hewan ternak yang hamil diterima dalam berkurban kalau di sana tidak ada penghalang lain.”

Syekh Muhammad bin Ibrohim rahimahullah mengatakan, “Berkurban dengan hewan hamil adalah sah, sebagaimana sahnya dengan adanya penghalang, kalau sekiranya aman dari aib (cacat) yang telah ditentukan dalam berkurban.” Selesai dari ‘Fatawa wa rosail Syekh Muhammad bin Ibrohim, (6/146).

Syekh Taqiyuddin Al Hishni dalam kitab Kifayah Al Akhyar menjelaskan bahwa:

وَهَلْ تُجْزِئُ الْحَامِلُ فِيْهِ خِلَافٌ قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ الْمَشْهُوْرُ أَنَّهَا تُجْزِئُ لِأَنَّ نَقْصَ اللَّحْمِ يُجْبَرُ بِالْجَنِيْنِ وَفِيْهِ وَجْهٌ لَا تُجْزِئُ

“Apakah mencukupi berkurban dengan hewan hamil? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Ibn Rif’ah berkata, pendapat yang mashur adalah mencukupi.

Karena kekurangan daging dapat ditambal dengan adanya janin. Dan pendapat lain mengatakan tidak mencukupi.” (Kifayah al-Akhyar, halaman 531)

Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin dalam kitab Busyra Al Karim menerangkan bahwa:

وَلَا يَجُوْزُ التَّضْحِيَةُ بِحَامِلٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ لِأَنَّ الْحَمْلَ يُنْقِصُ لَحْمَهَا، وَزِيَادَةُ اللَّحْمِ بِالْجَنِيْنِ لَا يَجْبُرُ عَيْبًا

“Tidak diperbolehkan kurban dengan binatang hamil menurut qaul mu’tamad. Karena kehamilan hewan dapat mengurangi dagingnya.

Dan bertambahnya daging disebabkan janin tidak dapat menambal kecacatannya.” (Busyra Al Karim, halaman 698)

Sedangkan Syekh Khatib As-Syirbini dalam salah satu kitabnya, Mughni Al Muhtaj, menegaskan bahwa:

وَقَوْلُ ابْنِ الرِّفْعَةِ الْمَشْهُوْرُ أَنَّهَا تُجْزِئُ؛ لِأَنَّ مَا حَصَلَ بِهَا مِنْ نَقْصِ اللَّحْمِ يَنْجَبِرُ بِالْجَنِيْنِ، فَهُوَ كَالْخَصِيِّ مَرْدُوْدٌ بِأَنَّ الْجَنِيْنَ قَدْ لَا يَبْلُغُ حَدَّ الْأَكْلِ كَالْمُضْغَةِ، وَلِأَنَّ زِيَادَةَ اللَّحْمِ لَا تَجْبُرُ عَيْبًا بِدَلِيلِ الْعَرْجَاءِ السَّمِيْنَةِ

“Dan pendapat Imam Ibnu Rif’ah, yang mashur bahwa hewan hamil mencukupi karena kurangnya daging ditambal dengan janin seperti halnya binatang yang terpotong testisnya,

ditolak dengan alasan bahwa terkadang janin tidak mencapai batas layak konsumsi seperti gumpalan daging serta bertambahnya daging tidak dapat menambal kecacatan dengan dalil binatang pincang yang gemuk.” (Mughni al-Muhtaj, VI/128)

Jadi, berkurban dengan hewan hamil terjadi perbedaan pendapat dan boleh mengamalkan kedua pendapat tersebut.

loading...
loading...

Tags: #Hewan Hamil #Hewan Kurban #Hewan Lebaran