Hukum Bersuci Dengan Air Banjir

Bencana banjir menyebabkan korban kekurangan pasokan air bersih. Kekurangan itu  sangat berpengaruh pada kebersihan dan kesehatan, salah satunya dengan bersuci.

Saat sulit air karena banjir bagaimana umat Islam memenuhi keperluan wudhu dan bersucinya?

Ustaz Farid Nu’man Hasan, memaparkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ, إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ, وَلَوْنِهِ

Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu yang bisa menjadikannya najis kecuali jika sudah berubah aroma, rasa, dan warna.” (HR Ibnu Majah No 521)

Hadits ini didha’ifkan para ulama seperti Imam asy-Syafi’i, Imam Abu Hatim, Imam an Nawawi, Imam az Zaila’i, dll. (Khulashah al Badr al Munir, 1/8, Al Majmu’, 1/110, Nashbur Rayah, 1/94)

Loading...

Akan tatapi meski haditsnya dha’if, para ulama telah sepakat kalau salah satu dari tiga sifat air itu berubah maka air sudah tidak lagi suci.

Imam ash-Shan’ani dalam Subulus Salam, 1/19, menjelaskan:

قال ابن المنذر: قد أجمع العلماء: على أن الماء القليل والكثير إذا وقعت فيه نجاسة فغيرت له طعماً، أو لوناً، أو ريحاً فهو نجس، فالإجماع هو الدليل على نجاسة ما تغير أحد أوصافه

Berkata Ibnul Mundzir: “Para ulama telah ijma’ bahwa air yang sedikit dan banyak, jika terkena najis lalu berubah rasa, warna, dan aroma, maka dia menjadi najis. ”

Maka, ijma’ adalah merupakan dalil atas kenajisan sesuatu yang telah berubah salah satu sifat-sifatnya.”

Ulama yang membolehkan berwudhu dengan air banjir jika air tersebut tidak bercampur dengan komponen selain tanah dan debu (mukholith) yang sampai mengubah warna, rasa, atau bau dari air.

Karena air yang berupah karena faktor tercampur tanah atau debu tidak sampai mencegah kemutlakan nama air.

Hal ini diterangkan dalam Kitab al-Muqaddimah al-Hadramiyah.

وَلَا يضر تغير بمكث وتراب وطحلب وَمَا فِي مقره وممره

“Perubahan air sebab diamnya air (dalam waktu lama), sebab debu, lumut, dan sebab sesuatu yang menetap dalam tempat menetapnya air dan tempat berjalannya air merupakan hal yang tidak dipermasalahkan.”

(Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Bafadhal, al-Muqaddimah al-Hadramiyah, Hal. 21)

Adala alasan boleh bersuci dengan air banjir adalah agar masyarakat mudah dalam bersuci.

Disebakan  air keruh yang bercampur dengan tanah dan debu sering jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya air yang bercampur debu dan tanah hanya membuat keruh warnanya saja bukan mengubah nama air dengan nama lain.

Hal ini seperti disampaikan dalam kitab Fath al-Wahhab:

لا تراب وملح ماء وَإِنْ طُرِحَا فِيهِ ” تَسْهِيلًا عَلَى الْعِبَادِ أَوْ لِأَنَّ تَغَيُّرَهُ بِالتُّرَابِ لِكَوْنِهِ كُدُورَةً وَبِالْمِلْحِ الْمَائِيِّ لِكَوْنِهِ مُنْعَقِدًا مِنْ الْمَاءِ لَا يَمْنَعُ إطْلَاقَ اسْمِ الْمَاءِ عَلَيْهِ وَإِنْ أَشْبَهَ التَّغَيُّرُ بِهِمَا فِي الصُّورَةِ التَّغَيُّرَ الْكَثِيرَ بِمَا مَرَّ

“Air tidak dikatakan berubah sebab bercampur debu atau bercampur garam air, meskipun keduanya (sengaja) dilemparkan pada air,

(hukum demikian) bertujuan untuk memudahkan masyarakat dan karena debu hanya memperkeruh air dan garam air merupakan gumpalan yang berasal dari air yang tidak sampai mengubah kemutlakan nama air,

meskipun perubahan dengan dua komponen ini secara bentuk menyerupai perubahan pada air yang banyak sebab benda-benda yang melebur (mukhalith).” (Syekh Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab, juz 1, hal. 5)

Beda halnya jika perubahan air banjir karena benda lain  seperti sampah, najis dan benda lainnya, yang dapat  mengubah terhadap bau, rasa dan warna air, maka air itu tidak boleh untuk bersuci.

loading...
loading...

Tags: #Air Bah #Air Banjir #Air Keruh