Hukum Kawin Kontrak Dalam Perspektif Islam

Dalam hadits dari beberapa riwayat dari Nabi SAW menggambaran nikah mut’ah yang  dilakukan para sahabat.

Gambaran itu dirinci sebagai berikut:

Pertama,
Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat.” (HR. Muslim)

Kedua,
Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga,
Jangka waktu nikah mut’ah hanya tiga hari saja. (HR. Bukhari dan Muslim)

Keemapat,
Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya. (HR. Muslim)

Loading...

Nikah mut’ah yang pernah dilakukan oleh para sahabat di zaman Abu Bakar dan Umar, hal itu karena belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut’ah selama-lamanya. (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, V/80)

Ulama bersepakat, dan hampir tak ada perbedaan pendapat bahwa nikah mut’ah itu tidak sah.

Adapun contaoh kalimatnya adala; “Saya mengawini kamu untuk masa satu bulan, setahun dan semisalnya.”

Perkawinan seperti ini tidak sah dan telah dihapus kebolehannya oleh kesepakatan para ulama

Sejak dulu ulama sepakat nikah mut’ah atau kawin kontrak tidak boleh. Apalagi praktik nikah mut’ah sekarang ini bertujuan untuk menghalalkan prostitusi.

Dalam Islam pernikahan punya tujuan mulia, bukan hnaya untuk menghalalkan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan,

Namun untuk membentuk keluarga dan keturunan yang akan meneruskan kesinambungan kehidupan dan menjaga agama.

Tags: #Kawin Kontrak #Nikah Mut'ah