Hukum Kawin Lari Dalam Pandangan Islam

115 views

Dalam sebuah pasangan kadang tak mendapatkan restu dari orang tua sehingga mengambil solusi yang kurang baik denga cara kawin lari.

Dalam hadis riwayat at-Tirmidziy dan Imam Ahmad disebutkan, jika ada seorang laki-laki baik agama dan akhlaknya melamar seorang gadis maka, Nabi memerintahkan menerimnya dan menikahkannya.

Dalam Pasal 14 Kompilasi Hukum Islam rukun perenikahan ada empat: calon suami, calon istri, wali nikah, dua orang saksi dan keempat ijab serta kabul.

Wali menjadi penentu predikat kawin lari tersebut. Wali bagi calon pengantin perempuan diwajibkan karena dia tidak bisa menikahkan dirinya sendiri.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Wanita tidak bisa menjadi wali wanita. Dan tidak bisa pula wanita menikahkan dirinya sendiri.

Wanita pezina-lah yang menikahkan dirinya sendiri.” (HR. Ad Daruquthni, 3: 227. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dan Syaikh Ahmad Syakir)

Loading...

Dengan sangat tergas Rasulullah SAW melarang perempuan menikah dengan tidak diberi idzin walinya.

Dari ‘Aisyah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah batiil, batil, batil.

Dan apabila mereka bersengketa maka pemerintah adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali”.

(HR. Abu Daud no. 2083, Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879 dan Ahmad 6: 66. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Adapu urutan wali menurut ulama Syafi’iyah, adalah ayah, kakek, saudara laki-laki, anak saudara laki-laki (keponakan), paman, anak saudara paman (sepupu).

Dan yang dimaksud wali untuk wanita yaitu famili laki-laki dari calon pengantin perempuan dari jalur si ayah.

Tidak boleh menikahkan perempuan jika urutan walinya masih ada daru urutan yang pertama seperti ayahnya masih hidup.

Beda hukumnya jika wali perempuan mewakilkan pernikahan putrinya pada orang lain seperti ayah kepada paman atau yang lain.

Jika wali nasab tidak ada bukan berarti seorang perempuan tidak bisa menikah.

Dalam Pasal 23 Kompilasi Hukum Islam jika wali nasab tidak ada atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau enggan menjadi wali maka boleh menggunakan wali hakim.

Majelis Tarih Muhammadiyah pun mengungkapkan, perwakinan lari bisa saja sah saat syarat dan rukunnya terpenuhi.

Dalam sebuah pernikahan jika menghindari  orang tua/wali yang utama termasuk dari pernikahan yang kurang baik walau orag tua yang dianggap salah.

Seharusnya calon pengantin menunggu dan pada akhirnya orang tua sadar akan kekeliruannya karena tidak merestuinya.

Majelis Tarjih Muhammadiyah menilai walaupun nikahnya sah jika alasan orang tua baik dan benar maka hal itu termasuk perbuatan dosa.

loading...
loading...

Tags: #Kawin LAri #Restu Ibu #Wali Nikah