Hukum Menggugurkan Kandungan Dari Hasil Zina

164 views

Islam tidak menganjurkan menggugurkan janin dalam kandungan. Bagaimana jika ingin menggugurkan kandungan hasil dari pemerkosaan?

Dalam buku Fiqh Perempuan oleh KH Husein Muhammad, dijelaskan dengan berdasarkan kesepakatan ulama fikih, janin dengan usia di atas empat bulan atau 120 hari diharamkan.

Karena saat usia itu janin sudah hidup. Karena haram membunuh manusia dengan keadaan apa pun, walaupun  kondisi tersebut membahayakan pada si ibu.

Mereka berpijak dalam firman Allah surat al-Isra’ ayat 33:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّۗ

Wa lā taqtulun-nafsallatī ḥarramallāhu illā bil-ḥaqq.

Loading...

“…Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, kecuali dengan kebenaran (haq)…”

Sedangkan hukum menggugurkan janin di bawah usia empat bulan diperdebatkan ulama ahli fikih.

Al-Ghazali dari mahzab Syafii melarang pengguguran dalam semua tahap pertumbuhan janin.

Menurut  al-Ghazali, ar-Ramli boleh menggugurkan dengan tingkatan berbeda, tergantung jauh dekatnya usia janin.

Mahzab lain juga tak sama dalam menghukumi pengguguran hasil hamil zina, sejumlah ulama mazhab Syafi’i membolehkan.

Majalah Al-Buhuts al-Fiqhiyah al-Mu’ashirah (Kajian Fiqh Kontemporer) terbitan Riyadh, Arab Saudi, Nomor XV11 tahun ke V dalam bentuk rubrik Masail fi al-Fikih mengemukakan solusi dengan jalan tengah.

“Jika perempuan itu sebelum berakhirnya usia janin 120 hari dapat meyakini kandungannya akibat pemerkosaan (berdasarkan keterangan dokter),

pengguguran setelah 120 hari adalah boleh,” tulis dalam majalah itu dalam halaman 204.

Dan pada halaman selanjutnya dikatakan, “Apabila dia tidak merasa yakin mengenai keadaannya sesudah terjadinya pemerkosaan itu karena beberapa sebab yang dibenarkan agama (al-a’dzar al-syar’iyyah) dan usia janin sudah melebihi 120 hari,

maka kaidah agama memberikan peluang bagi pengguguran tersebut seperti dalam keadaan darurat, tetapi dia harus membayar kafarat (tebusan).”

Dalam penjelasan pada majalah itu, pada umumnya wanita diperkosa  mengalami penderitaan fisik dan mental, bahkan dapat menghancurkan hidupnya.

Maka dari itu pengguguran kandungan dianggap lebih ringan daripada kematian.

Jika hal itu tidak menimbulkan akibat buruk baginya, maka dia wajib tidak melakukan pengguguran.

Dari penjelasan itu maka pengguguran hasil perkosaan dibenarkan hanya ketika dalam kondisi dilematis.

Menurut KH Husein Muhammad yang dijelaskan dalam bahasa fikih disebut al-akhdz bi akhaff al-dhararayn, mengambil pilihan buruk daripada yang lebih buruk.

Kaidah fikih menyebutkan idza ta’aradha al-mafsadatan ru’iya a’zhamuhuma dhararan atau jika berhadapan dua bahaya (keburukan), maka yang harus dijaga (dilindungi) adalah yang paling buruk.

loading...
loading...

Tags: #Hasil Zina #Janin Bayi #Wanita Hamil