Hukum Mengumumkan Kematian Seseorang di Masjid/Musholla Pakai Pengeras Suara

Tak ada manusia yang bisa menolak kematian sebab kematian adalah hal yang akan terjadi pada setiap yang bernyawa.

Tak ada satu manusia pun yang tahu kapan jalnya tiba akan tetapi apabila seorang hamba telah meninggal lalu diumamkan diberita, bahkan disiarkan pakai pengeras suara apakah boleh hal tersebut dilakukan?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seseorang yang selalu mengumpulkan sampahdimasjid semasa hdiupnya llau ia meninggal dunia.

Rasulullah SAW menanyakan tentang orang tersebut dan dikabarkan sudah meninggal. Lalu Rasulullah SAW pun bersabda:

أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِى بِهِ دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ

“Kenapa kalian tidak mengabariku tentang kematiannya? Sekarang tunjukkan padaku di manakah kuburnya.” (HR. Bukhari no. 458 dan Muslim no. 956)

Akan tetapi mengumumkan berita kematian lewat pengeras suara dimasjid sebetulnya tidak layak dilakukan.

Loading...

Al-Muwafaq dalam kitabnya At Tajj wal Iklil li Mukhtashor Kholil berkata, ia mendengar bahwa Ibnul Qasim berkata bahwa imam maik ketika ditanya mengenai kematian yang diumumkan dipintu-pintu masjid ia tidak menyukainya.

Apalagi jika berteriak dimasjid mengenangi kematian seseorang makahal itu tidaklah diperbolehkan.

Ia mengatakan, “Seperti itu tidak ada kebaikan.”

Ia juga berkata, “Tidak mengapa jika ia berkeliling di majelis lalu mengabarkan berita tersebut tanpa mengeraskan suara.”

Ulama besar Syafi’iyah yaitu Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan:

أَنَّ النَّعْي لَيْسَ مَمْنُوعًا كُلّه ، وَإِنَّمَا نُهِيَ عَمَّا كَانَ أَهْل الْجَاهِلِيَّة يَصْنَعُونَهُ فَكَانُوا يُرْسِلُونَ مَنْ يُعْلِن بِخَبَرِ مَوْت الْمَيِّت عَلَى أَبْوَاب الدُّور وَالْأَسْوَاق

“Mengumumkan berita kematian tidaklah semua terlarang. Yang terlarang hanyalah yang dahulu dilakukan orang Jahiliyah di mana mereka mengutus beberapa orang untuk mengumumkan berita kematian di pintu-pintu dan di pasar-pasar. ” (Fathul Bari, 3: 116)

Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa Sa’id bin Manshur juga menyebutkan tentang kematian yang diumumkan adalah perbuatan orang jahiliyah.

Dikabarkan dari Ibnu ‘Ulayyah, dari Ibnu ‘Aun, ia berkata bahwa ia bertanya pada Ibrahim, “Apakah mereka melarang mengumumkan berita kematian?” Ibrahim pun menjawab, “Iya terlarang.” Ibnu ‘Aun menjelaskan,

إِذَا تُوُفِّيَ الرَّجُل رَكِبَ رَجُل دَابَّة ثُمَّ صَاحَ فِي النَّاس : أَنْعِي فُلَانًا

“Jika ada yang meninggal dunia, maka ada yang akan menaiki hewan tunggangan lantas berteriak di khalayak ramai, “Aku kabarkan tentang berita kematian si fulan.” (Fathul Bari, 3: 117)

Ibnul ‘Arabi mengatakan, “Kesimpulan dari berbagai hadits mengenai hal ini adalah perlu ada tiga rincian.

الْأُولَى إِعْلَام الْأَهْل وَالْأَصْحَاب وَأَهْل الصَّلَاح فَهَذَا سُنَّة ، الثَّانِيَة دَعْوَة الْحَفْل لِلْمُفَاخَرَةِ فَهَذِهِ تُكْرَه ، الثَّالِثَة الْإِعْلَام بِنَوْعٍ آخَر كَالنِّيَاحَةِ وَنَحْو ذَلِكَ فَهَذَا يَحْرُم
  1. Menyampiakan berita kematian kepada keluarga, sahabat serta orang-orang yang shalih hukumnya dianjurkan.
  2. Mengumumkan kematian dengan banyak orang dengan bertujuan menyebut kelebihan mayat hal ini hukumnya makruh
  3. Mengumumkan dengan cara meratapi kematian meratapi hukumnya adalah haram

Semoga dengan sellau mengingat mati dapat menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang akan senantiasa ingat akan kasih sayang Allah, Akan cinta-Nya serta segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada Ummat-Nya. [islampos.com]

Tags: #Hukum Menyiarkan Kematian #Menyiarkan Kematian

Author: 
    author