Hukum Menikung Tunangan Orang Lain

821 views

Sebelum proses akad nikah dilaksanakan, ada proses khitbah atau meminang yang biasanya tidak jauh dari tanggal pelaksanaan akad nikah tersebut.

Dalam kitab Al Khitbah Ahkam wa Adab, Syaikh Nada Abu Ahmad menyebutkan bahwa khitbah itu permintaan menikah dari pihak laki-laki yang mengkhitbah kepada perempuan pilihannya, atau juga bisa kepada wali perempuan tersebut.

Seiring dengan kemajuan dunia sosial media di zaman sekarang, banyak perkenalan yang tidak sengaja yang mampu mempertemukan laki-laki dan perempuan  dengan mudah.

Atau bahkan sangat tidak sengaja kita tertarik dan jatuh cinta pada seseorang yang sudah melewati proses tunangan atau dikhitbah.

Lantas bagaimanakah jika cinta tersebut tumbuh subur di antara keduanya? Dan laki-laki tersebut berniat untuk menikung tunangan orang tersebut?

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Loading...

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيْعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَلاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيْهِ، حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ.

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya

Mengkhitbah perempuan adalah boleh-boleh saja. Namun jika perempuan tersebut sudah dikhitbah terlebih dahulu oleh orang lain, maka lebih baiknya tidak mengkhitbahnya kembali.

Rasulullah melarang hal tersebut. Kecuali perempuan tersebut membatalkan tunangan pertamanya atau laki-laki yang mengkhitbahnya telah mengizinkannya.

Hukum khitbah adalah tidak wajib, namun kebiasaan masyarakat dalam praktiknya menunjukkan bahwa khitbah adalah pendahuluan yang hampir pasti.

Sebab itu, jika kedua belah pihak sudah sepakat, maka khitbah tersebut dapat dilangsungkan baik secara sindiran atau terang-terangan. Dalam surah al-Baqarah ayat 235, Allah berfirman:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”

Sumber: bincangsyariah.com

Tags: #Gagal Menikah #Merebut Tunangan #Perebut Suami