Hukum Nyinyir di Media Sosial Dalam Islam

Allah  memerintahkan kita semua supaya menjaga lisan. Karena keselamatan manusia tergantung pada lisannya. Dan Allah telah memberikan teladan melalui Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan yang tidak disukai. Jika beliau suka maka beliau makan dan jika tak suka maka beliau tinggalkan.

Seperti yang diriwayatkan oleh Aisyah. “Rasulullah SAW sama sekalitidak pernah mencela makanan yang tidak disukainya.

Jika beliau menyukai, maka beliau akan memakannya, jika tidak maka beliau akan meninggalkannya.”

Dalam masalah makanan saja, Rasulullah SAW sangat menjaga lisannya dari mencela. Apalagi pada umat manusia dan sesamanya.

Pada masa modern ini lebih-lebih setelah teknologi semakin canggih dan danmudah didapat, manusia sangat bebas mengutarakan ekspresi dan aspirasinya.

Loading...

Sangat banyak manusia yang tidak menjaga tata krama dalam konten maupun tulisan yang disebarkannya di media sosial.

Sehingga Muncullah istilah ‘nyinyir’. Istilah ini diberikan pada  orang yang kerap berkomenar negatif yang dilihat dan didengarnya di media sosial.

Lalu bagaimana pandangan Islam menyikapi perbuatan tersebut?

Dalam syariat Islam, nyinyir hampir sama dengan menyindir, mencela atau mencaci maki.

Dengan demikian maka hukumnya tidak jauh beda dengan hukum menyindir dan mencela orang. Artinya Hal itu jelas dilarang.

Hal  itu menjadi dosa jika tujuannya untuk menyakiti orang lain. Karena hukum menyakiti hati orang lain dalam Islam adalah dosa.

Dan hal ini pasti ada balasan balasan yang setimpal kelak  di akhirat selama belum meminta maaf.

Muslim yang baik,  tidak akan melakukan perbuatan nyinyir itu. Allah telah memperingatkan hambanya untuk tidak mencela ataupun mencemooh orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung.

Allah berfrman dalam al-Qur’an;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang (yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang (mengolok-olok),

dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-ololk perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik daripada yang mengolok-olok.

Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.

Seburuk-buruk panggilan adalah (paggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Hujurat: 11)

JadiAllah SWT melarang hambanya untuk mengolok-olok ataupun mencela orang lain, sebab bisa  ia yang di perolok lebih baik dari yang mengolok.

loading...
loading...

Tags: #Hukum Nyinyir #Media Sosial #Orang Nyinyir