Hukum Onani Untuk Menghindari Zina

33637 views

Dalam Islam Onani dikenal dengan istilah istimna’ atau mengeluarkan mani selain berhubungan intim.

Onani dihukumi mubah dalam Islam jika suami melakukannya dengan bantuan tangan istri.

Pada dasarnya hukum onani itu haram jika dilakukan tanpa sebab, seperti hanya ingin membangkitkan syahwat saja. Hal ini berdasarkan firman Allah:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ، إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ، فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali (mencari kesenangan birahi) terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa yang mencari (kesenangan birahi) pada selain mereka, maka mereka itulah yang melampui batas”. (QS. al-Mukminun: 5-7)

Jika melakukan onani atas dasar ingin terhindar dari perbuatan zina, ulama berbeda pendapat sehingga memunculkan dua hukum, yaitu:

Pertama
Jika tujuannya untuk menekan syahwat agar tidak terjerumus pada perbuatan zina, hukumnya diperbolehkan dan bahkan wajib melakukan onani jika dengan melakukan onani tidak akan berzina.

Loading...

Hukum ini bedasarkan pendapat Ibnu Abidin, ulama penganut Imam Hanafi yang mengutip kaidah fiqih: “Kondisi darurat memperbolehkan hal-hal yang dilarang” dan “mengambil salah satu dari dua madharat yang paling ringan”.

Kedua
Pendapat kedua ini tidak membolehkan onani meski dengan tujuan untuk menghidari zina, ini menurut Imam Ahmad bin Hambal yang mengatakan bahwa onani bukan solusi menghindari zina.

Ahmad bin Hambal berpendapat, untuk manahan syahwat (menghindari zina) itu dengan cara berpuasa bukan dengan onani, beliau mengutip hadits Nabi:

يا معشر الشباب من استطاع الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

“Wahai para pemuda, barang siapa yang memiliki kemampuan untuk menikah, menikahlah. Karena pernikahan itu akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah. Sebab dalam puasa itu ada penekan (syahwat) baginya.” (HR. Muslim: 4779)

Itulah dua pendapat tentang onani dalam Islam, yang bisa diambil salah satunya sesua dengan kondisi anda. Tapi demi kehati-hatian, maka sebaiknya anda disarankan untuk mengambil pendapat yang nomor 2 saja. [pesma-annur.net]

Tags: #Hukum Onani #Menekan Syahwat