Hukum Vaksi Itu Haram, Tapi Boleh Karena Alasan Ini

179 views

MUI (Majelis Ulama Indonesia) memutuskan bahwa vaksin MR (Measles Rubella) dan Rubella yang merupakan produk dari SII (Serum Intitute of India), ditetapkan bahwa hukumnya haram karena diketahui bahwa proses produkssi tersbut memiliki unsur babi didalamnya.

Akan tetapi meskipun kondisi keterpaksaan (dharurat syar’iyyah) sehingga penggunaan vaksin MR produk dari SII saat ini diperbolehkan.

Keputusan tersebut terdapat didalam fatwa No 33 tahun 2018 dalam rapat pleno yang diselenggarakan di kantor MUI telah ditetapkan Jakarta, kemarin (20/08/18).

Vaksin Rubella (Vaksin MR) Boleh Karena Darurat
Yang dimaksud dalam putusan fatwa MUI Kondisi darurat atau keterpaksaan jika dibiarkan dianggap akan menyebabkan kefatalan pada seseorang misal kematian.

Tahun 2016 WHO (World Health Organization) mengeluarkan data bahwa di Indonesia sudah lebih dari 800 kasus rubella yang menimpa anak-anak.

Sedangkan pada ibu hamil, kasus rubella biasanya meinmpa saat usia kandungan umur 5 bulan yang berpotensi menyebabkan sindrom rubella konginetal. Bahkan lebih parah bisa menyebabkan kematian pada bayi di dalam kandungan.

Loading...

Masih berdasarkan WHO ada sekitar 100.000 bayi yang terlahir dengan sindrom ini diseluruh dunia.

Sebagaimana dikutip dari situs alodokter, bayi bisa lahir dalam keadaan cacat disebabkan oleh sindrom rubella kongenital, seperti:

  • Kerusakan otak
  • Organ hati
  • Diabetes tpie 1
  • Hipertirroidisme
  • Tuli
  • Katarak
  • Paru-paru
  • Penyakit jantung bawaan
  • Pembengakakan otak
  • Hipotirodisme
  • Pembengakakan otak
  • Hipotiroidisme

Dalam fatwa MUI tersebut sesuai dengan Qawaid Fiqhiyyah (Dasar Perundang-undangan Fikih) yang ditetapkan dalam Islam bahwa diperbolehkan menggunakan faksin rubella dalamkondisi keterpaksaan.

الضرورات تبيح المحظورات

“Sesuatu yang darurat membolehkan hal yang diharamkan.”

Hal ini merupakan kaidah cabag pertama dari kaidah yang kedua yaitu al-Dhararu Yuzaal yang man kemudaratan harus dihilangkan.

Karena memiliki urgensi tersendiri bagi sendi-sendi kehidupan manusia dan memiliki sandaran dalil yang kuat.

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah; 173)

Syeikh Abdurrahman al-Sa’diy mengatakan bahwa makna dari famanidhturra adalah dalam kondisi darurat seseorang yang terpaksa mengkonsumsi hal yang dilarang maka tak berdosa selama tidak berlebihan juga demi keselamatan jiwanya.

Sebab jika tidak mengkonsumsi maka akan menyebabkan kemudaratan.

Menurut Syeikh Aburrahman, Jika ada seseorang yang diperintahkan untuk mengkonsumi hal yang dilarang maka diwajibkan jika tidak mengkonsumsi akan menyebabkan kematian atau kehancura.

Karena jika tidak mengkonsumsi maka samahalnya dengan membunuh dirinya sendiri dan ia telah melakukan dosa besar.

Karena ketika ada kondisi darurat demikian maka hukum haram akan hilang baginya dan boleh mengkonsumsi hal terlarang tersebut.

Dengan diperbolehkan juga dengan kelonggaran tersebut adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya.

Oleh sebab itulah Syeikh Abdurrahman, menjelaskan bahwa ayat diatas menggambarkan bahwa Allah memiliki sifat yang sangat mulia yaitu Allah maha mengampuni juga maha penyayang.

Vaksin Rubella Dibolehkan Dengan Syarat
Vaksin Rubella diperbolehkan selama belum ditemukan vaksin rubella yang halal dan suci. Hal tersebut juga menimbang tentang bahaya jika tidak diimuniasai hal ini diterangkan oleh ahli yang kompeten.

Juga belum ada vaksin yang terbukti halal maka dengan demikian diperbolehkan menggunakna vaksin MR selama belum ada vaksin yang halal.

Rekomendasi MUI
MUI merekomendasikan kebijakan upaya pemerintah selama vaksin rubella yang halal dan suci belum ditemukan

  • Pemerintah Wajiba Menjamin Tersedianya Vaksin yang Halal Demi Imunasi Untuk Masyarakat
  • Produsen Vaksin Wajib Mengupayakan Pembuatan Vaksin yang Halal Demi Mensertifkasi Produk Vaksin yang Halal Sesuai dengan Peratuaran Perundang-undang
  • Pemerintah Harus Menjadikan Pertimbangan Agama Sebagai Panduan Dalam Pengobatan dan Imunisai
  • Hendaknya Pemerintah Mengupayakan Secara Maksimal juga melalui WHO dan negara-negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat muslim terutama dalam hal kebutuhan obat-obatan serva vaksin yang halal dan suci.

[bincangsyariah.com]

Tags: #Hukum Imunisasi #Hukum Vaksin #Vaksin Rubella