Ini Hukumnya Mencintai Wanita yang Sudah Punya Suami

5405 views

Kita tidak pernah tahu perasaan cinta itu akan tertuju kepada siapa, walau perasaan cinta bukan sesuatu yang terlarang.

Lalu bagaimana jika perasaan cinta tertuju kepada seseorang sudang sudah memiliki pasangan misal sudah memiliki suami.

Lantas bagaimana jika perasaan cintanya sampai pada tindakan hingga membuat perempuan lain mencintai laki-laki lain yang bukan suaminya?

Pada dasarnya, perasaan cinta itu bukanlah perasaan cinta yang terlarang. Agama juga mengakui hal tersebut, misal dapat kita temukan dalam surah Ali ‘Imran: 14.

Akan tetapi, di ayat tersebut dijelaskan tentang cinta pada yang kekal.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan at-Thabarani dalam Syu’abu al-Iman:

Loading...
يأ أسلم، لا يكن حبّك كلفا ولا بغضك تلفا. قال: “وكيف ذاك؟” قال: إذا أحببت فلا تكلف كما يكلف الصي بالشيء يحبه، وإذا أبغضت فلا تبغض بغضًا تحب أن تتلف صاحبكَ ويهلك

Wahai Aslam, jangalah cintamu sampai terlalu membara dan bencimu sampai membuatmu gelap mata. Aslam berkata : « bagaimana caranya itu ? » ‘Umar bin Khattab berkata : « Jika engkau mencintai maka jangan sampai keterlaluan layaknya anak kecil senang terhadap sesuatu. Dan jika kalian benci jangan sampai keterlaluan sekali hingga engkau ingin agar sahabatmu sendiri celaka atau mati. »

Kita diajarkan pentingnya mengendalikan perasaan cinta yang ada di dalam hati, seperti yang disampaikan hadits tersebut.

Hadis diatas menjadi pengingat bawha cinta yang kebablasan sudah diperingati agar jangan sampai terjadi. Syaikh ‘Ali Jum’ah, dalam video tanya jawabnya berjudul Rajulun Yuhibbu Imra’atan Mutazawwijatan Maadza Yaf’alu bagaimana hukum mencintai perempuan yang sudah memiliki suami, apa yang harus dilakukan?

Cinta yang seperti ini harus dijauhi karena meskipun tidak berdosa jika tidak ditunjukkan. Karena jika di simpan di dalam hati cinta tersebut tidak dihukumi. Ini seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad.

من عشق فعف فمات، مات شهيدًا

“Siapa yang mencintai, lalu menyimpannya, kemudian ia mati. Maka ia mati dalam keadaan syahid.”

Dalam kitab Dar’u al-Dha’f li Man ‘Asyiqa wa ‘Affa, hadits diatas dishahihkan oleh Syaikh Ahmad al-Ghumari. Hadits diata juga memiliki makna positif, karena seseorang yang menahan cinta ia sudah berusaha menahan sikap buruknya.

Jika seseorang mencintai istri orang selama tidak ditunjukkan, tidka merusak pernikahannya dan disimpam di dalam hatinya maka tidka dihukumi haram.

Sedangkn jika sampai ditunjukkan dan sampai merusak pernikahan orang lain maka hukumnya haram. Hal ini disebutkan dalam kitab al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah,

فمن أفسد زوجة امرئ، أي: أغراها بطلب الطلاق، أو التسبب فيه، فقد أتى بابًا عظيمًا من أبواب الكبائر. وقد صرح الفقهاء بالتضييق عليه، وزجره، حتى قال المالكية بتأبيد تحريم المرأة المخَبَّبة على من أفسدها على زوجها؛ معاملة له بنقيض قصده؛ ولئلا يتخذ الناس ذلك ذريعة إلى إفساد الزوجات

Maka siapa yang merusak istri seseorang, maksudnya: “membuat perempuan menjadi tertarik kepada orang yang menggodanya, maka orang yang melakukannya telah mendatangi pintu yang besar menuju dosa besar. Para ahli fikih menegaskan hal itu dengan ketat dan melarangnya. Mazhab Maliki berpendapat haramnya perempuan yang digoda itu kepada laki-laki yang merusakan hubungan prempuan itu dengan suaminya. Tujuannya agar orang-orang tidak menjadikan itu jalan untuk merusakkan para istri. [bincangsyariah.com]

Tags: #Hukum Mencintai #Istri Orang Lain #Mencintai Istri Orang