Ini Hukumnya Suami Makan Gaji Istri

6369 views

Ketika sudah menikah, suami memiliki tanggung jawab yang sangat besar kepada istrinya.

Jika awalnya anak perempuan ayahnya yang menafkahinya, namun ketika sudah menikah maka semua tanggung jawab ayahnya akan berpindah kepada suminya.

Oleh sebab itu suami dituntut untuk mencari nafkah demi kebutuhan istrinya.

Walau pun tak ada tuntutan bagi para suami dalam besarnya nafkah yang didapatkan, hanya saja para sumi wajib mencari nafkah sesuai dengan kemampuan mereka.

Seorang istri dilarang bekerja keluar rumah tanpa izinsuami, kecuali sang isitri meminta izin dan mendapatkan restu dari suaminya. Atau ketika sebelum menikah ada persyaratan bahwa sang istri akan bekerja diluar rumah.

Penghasilan Istri dan Suami
Ketika istri bekerja maka hartanya adalah miliknya, sedangkan suami sema sekali tidak atas harta sang istri, seperti warisannya, bisninya dan maharnya.

Loading...
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), …” (QS. an-Nisaa : 29)

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

“Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan …” (QS. an-Nisaa: 4)

Ketika seorang istri sudah mengajkukan persyaratan sebelum menikah maka suami tidak diperbolehkan mengambil sedikitpun gaji sang istri.

Namun jika sang istri tidak mmeinta persyaratan sebelum akad maka sang istri hendaknya ikut membantu suami menafkahi suaminya sedikit atau banyak.

Sebab waktu yang dibuat istri untuk bekerja adalah hak sang suami. Hal ini menurut Syeikh Muhammad Shaleh al Munjid.

Al-Bahuti mengatakan,”Tidaklah seorang istri mempekerjakan dirinya sendiri setelah akad nikah tanpa izin suaminya dikarenakan adanya penghilangan hak suaminya.” (ar-Roudh al-Murabba’ hal 271)

Sedangkan gaji suami adalah hak suami seutuhnya hanya saja ia diwajibkan untuk membagi hartanya karena sebagai suami memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarganya. Maka dari itu sang istri tidka boleh membelajakan uang suami tanpa seizinnya.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak boleh seorang istri memberikan suatu pemberian kecuali dengan seizin suaminya.”

Imam Nawawi mengatakan bahwa seorang istri tidak berhak mensedekahkan sesuatu dari harta suami tanpa seizinnya demikian pula pembantu. Dan jika mereka berdua melakukan hal demikian maka mereka berdua telah berdosa.” (Shahih Muslim bi Syarh an Nawawi juz VI hal 205)

Akan tatpi hadist diatas dikecualian terhadap sesuatu yang nilainya tidak seberapa, menurut kebiasaan atau karena suami yang pelit dalam menafkahi istrinya.

Sebagaimana riwayat Imam Bukhari dari ‘Aisyah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seorang wanita bersedekah dari makanan yang ada di rumah (suami) nya bukan bermaksud menimbulkan kerusakan maka baginya pahala atas apa yang diinfaqkan dan bagi suaminya pahala atas apa yang diusahakannya. Demikian juga bagi seorang penjaga harta/bendahara (akan mendapatkan pahala) dengan tidak dikurangi sedikitpun pahala masing-masing dari mereka”.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa Hindu binti Utbah berkata, “Wahai Abu Sufyan adalah seorang laki-laki yang pelit. Ia tidak memberikan kecukupan nafkah padaku dan anakku, kecuali jika aku mengambil dari hartanya dengan tanpa sepengetahuannya.”

Maka beliau bersabda: “Ambillah dari hartanya sekadar untuk memenuhi kebutuhanmu dan juga anakmu.”

Memberi Uang Pada Orangtua Tanpa Seizin Pasangan
Menurut penjelasan diatas, bisa diketahui bahwa harta suami dan istri adalah hak masing-masing.

Akan tetapi terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama bahwa istri harus mendapatkan izin suami ketika membelanjakan hartanya sendiri. Namun jumhur ulama tidak mengharuskan izin kepada suami.

Menurut Syeikh Hisamuddin ‘Afanah bahwa pendapat yang kuat adalah Tak ada kewajiban bagi istri untuk minta izin suami untuk membalanjakan hartanya sendiri.

Istri diperbolehkan mmeberikan hartanya kepada orang tuanya walau tanpa izin suami apalagi jika suaminya tidak memiliki pekerjaan.

Akan tetapi lebih baik mendiskusikan terlebih dahulu ketika istri ingin memberikan uang kepada orang tuanya.

Bagi suami, tidaklah harus meminta izin sang istri untuk memberikan uang kepada orang tuanya, terlebih lagi jika orang tuanya tidak berpangsilan, selama sang istri memiliki uang lebih ketika sudah dibelanjakan kepada keluarganya.

Bahkan hal tersebut menjadi kewajiban sang anak untuk menafkahi keluarganya.

Namun jika sang suami tidak memiliki harta yang lebih untuk keluarganya sendiri maka tidak diwajibkan untuk memberikan uang kepada orang tuanya.

Jika memang ingin memberikan uang kepada orang tuanya maka hal tersebut sangatlah baik namun harus diskusikan terlebih dahulu kepada istirnya dan harus mendapatkan persetujuan darinya.

Karena kewajibannya adalah istri dan anaknya sehingga membelajankan istri lebih utama dari pada orang tuanya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Tsauban ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik dinar (uang atau harta) yang dinafkahkan seseorang, ialah yang dinafkahkan untuk keluarganya, untuk ternak yang depeliharanya, untuk kepentingan membela agama Allah, dan nafkah untuk para sahabatnya yang berperang di jalan Allah.” Abu Qilabah berkata; Beliau memulainya dengan keluarga.” [ummi-online.com]

Tags: #Hukum Suami Makan Gaji Istri #Hukum Suami Makan Harta Istri