Inilah Kunci Utama Mencari Rezeki yang Sering Dilupakan

366 views

Masalah rezeki memang pelit untuk kita pahami. Disebabkan  kurangnya ilmu pengetahuan dalam memahami rezeki.

Sering orang katakan bahwa rezeki mempunyai beberapa pintu. Seperti melalui pintu perdagangan, petani, pejabat atau bahkan petani.

Hal yang paling penting dalam memahali masalah rezeki adalah keutamaan tawakkal di dalamnya.

Seperti apakah tawakkal dalam konsep peresoalan rezeki?

Dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki.

Loading...

Burung tersebut pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore dalam keadaan kenyang.”

(HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya, dan Al-Hakim. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).

[HR. Ahmad, 1:30; Tirmidzi, no. 2344; Ibnu Majah, no. 4164; dan Ibnu Hibban, no. 402.)

Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menjelaskan bahwa sanad hadits ini kuat dan perawinya tsiqqah, terpercaya,

termasuk perawi shahihain, selain ‘Abdullah bin Hubairah yang merupakan perawi Imam Muslim.

Hadits ini merupakan pokok dalam masalah tawakal. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tawakal itu jadi sebab terbesar datangnya rezeki.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:496-497)

Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Nabi shallalahu ‘alaihi wa salam membacakan ayat ini pada Abu Dzarr, beliau berkata kepadanya,

لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوْا بِهَا لَكَفَتْهُمْ

“Seandainya manusia seluruhnya memperhatikan ayat ini, tentu hal itu akan mencukupi mereka.”

Maksudnya, seandainya kaum muslimin merealisasikan takwa dan tawakal dengan benar, urusan dunia dan agama mereka akan tercukupi. (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:497)

“Inti dari tawakal adalah benar dalam menyandarkan hati kepada Allah dalam meraih maslahat atau menolak mudarat, berlaku dalam perkara dunia maupun akhirat seluruhnya.

Dalam tawakal, kita menyandarkan seluruh urusan kepada Allah.

Dalam tawakal, kita merealisasikan iman dengan benar yaitu meyakini bahwa tidak ada yang memberi,

tidak ada yang mencegah, tidak ada yang mendatangkan mudarat, tidak ada yang mendatangkan manfaat selain Allah.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:497)

Bertawakkal pada Allah bukan berarti tidak melakukan usaha. Allah memerintahkan mencari sebab bersamaan dengan bertawakal kepada-Nya.

Menjalani sebab dengan usaha merupakan bentuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati (batin) adalah bagian dari keimanan kepada Allah.

Inilah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:498.

Buah tawakal adalah rida dengan qadha’ (ketetapan) Allah. Sebagian ulama menafsirkan tawakal dengan rida kepada Allah. Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:508.

Tags: #Mencari Bafkah #Mencari Rejeki #Nafkah Keluarga #Rejeki Allah