Istri yang “Minta” Duluan Memiliki Keutamaan Sangat Besar

2319 views

Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua, namun bagi perempuan yang telah menikah, ridho Allah tergantung ridho suaminya. Allah baru akan ridha kepada seorang perempuan jika suaminya sudah ridho.

Restu suami tentu tidak lepas dari sikap Istri yang takzim, bersikap hormat serta patuh kepada suaminya tentu dalam batas-batas kewajaran dan tidak belebihan.

Sikap takzim dan bakti seorang istri dalam perilaku keseharian tentu akan membangun hubungan rumah tangga yang baik hingga akan menuai hasil yang sempurna di hari kiamat kelak sebagai sabda Rasullullah SAW.

وعن أم سلمة رضي الله عنها، قالت قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم أيما امرأة ماتت، وزوجها عنها راض دخلت الجنة رواه الترمذي، وقال حديث حسن

Artinya, “Dari Ummu Salamah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW, ‘Perempuan mana saja yang meninggal dunia, sedangkan suaminya bersikap ridha atasnya, niscaya ia masuk surga,’” (HR At-Tirmidzi).

Rasulullah SAW menyebut arti pentingnya seorang istri yang takzim dan berbakti kepada suaminya. Sebagai istri tidak hanya dituntut mencari ridha Allah namun juga harus mencari ridha suaminya. Jika suami ridha tentu Allah akan ridho, maka sebagai istri harus berbakti kepada suami.

Sebagai istri harus bersikap salehah dalam segala kegiatan, serta bersikap hormat dalam menjalani hubungan rumah tangga.

Loading...

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم …والذي نفس محمد بيده لا تؤدي المرأة حق ربها حتى

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘… Demi Allah, Zat yang memegang jiwa Muhammad, seorang perempuan belum memenuhi kewajiban Tuhannya hingga ia memenuhi kewajiban terhadap suaminya,’” (HR Ibnu Majah).

Meski seorang istri wajib berbakti serta berkhidma dan melayani suaminya namun bukan berarti seorang suami bisa bersikap seamunya.

Seorng suami tidak boleh bersikap sewenang-wenang atas istrinya atas nama kewajiban dan bakti yang harus dilakukan oleh syari’at Islam.

Bakti seorang istri telah diatur dalam kitab fiqih yang perlu diketahui oleh keduanya. Agar antara suami dan istri tidak melanggar batas-batasan tersebut.

Pasangan suami istri tidak hanya dituntut untuk mengetahui batasan kewajiban dan bakti namun juga dituntut harus saling menjaga hubungan baik dalam berhubungan seksesual.

Pasangan suami istri tidak boleh mamaksakan kehendaknya, karena dalam hubungan seksual pasangan suami istri bukan hanya sekedar syahwat belaka, namun juga berkaitan dengan kesiapan fisik dan mental.

Namun apabila seorang perempuan yang menyiapkan dirinya terlebih dahulu dalam masalah hubungan seksual,  maka ia akan mendapatkan kemurahan dari Allah yang sangat besar.

Rasulullah SAW pernah berpesan kepada putrinya, Siti Fathimah RA, jika seorang istri dengan senang hati menyiapkan diri untuk berhubungan seksual dengan suaminya, maka ia akan mendapatkan ganjaran yang besar dari Allah SWT.

ﻭﺃﻳﻤﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓٍ ﻓﺮﺷﺖ ﻟﺰﻭﺟﻬﺎ ﺑﻄﻴﺐ ﻧﻔس ﻧﺎﺩﺍﻫﺎ ﻣناد ﻣﻦ ﺍﻟسماء اﺴﺘقبلي ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻓﻘﺪ ﻏﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻚ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻚ ﻭﻣﺎ ﺗﺄﺧﺮ

Artinya, “Wahai Fatimah, Tiada seorang perempuan yang ‘menyiapkan’ diri untuk suaminya dengan senang hati kecuali seorang (malaikat) menyeru dari langit: ‘Mulailah beraksi!’ niscaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang terkemudian,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Uqudul Lujain fi Bayani Huquqiz Zaujain, [Semarang, Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 13).

Hubungan badan antara suami istri memerlukan kesiapan mental, maka tidak baik jika dilakukan adalam keadaan terpaksa. Keduanya harus sama-sama memperhatikan kesiapan fisik dan mental agar hubungan tersebut berlangsung bahagia tanpa merasa tertekan.  [nu-online.com]

Tags: #Adab Istri #Hubungan Suami-Istri #Minta Duluan