Jika Tahun Lalu Wanita Punya Hutang Puasa, Ini Batas Akhir Menggantinya

1969 views

Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu dan dirinudkan oleh setiap orang muslim.

Bulan ramadhan adalah bulan penuh rahmat yang penuh ampunan serta pahala yang dilipat gandakan. Bulan ramadhan juga memiliki keeistimewaan yaitu malam lailatul qadryang yang lebih baik dari seribu bulan.

Jika pada malam itu ada seseorang yang melakukan amalan baik karena Allah maka pahal yang didapatkan adalah lebih baik dari usaha yang dilakukan selama seribu bulan.

Oleh sebab itu bulan ramadhan menjadi ladang pahal bagi orang muslim serta bertambah semangat dalam beramal pada bulan ramadhan.

Semua umat muslim berlomba untuk menabung pahal tersebut, namun sayangnya sebagai perempuan yang memiliki fitrah yang tidak memungkinkan berpuasa penuh sebulan.

Ketika keluarnya darah haid dan nifas maka ia tidak wajib untuk melaksakan puasa pada bulan ramadhan. Sehingga memiliki kewajiban untuk membayar dilain waktu sesuai dengan kemampuannya.

Loading...

Seperti firman Allah di dalam surah al-Baqarah ayat 184:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan, pada hari-hari yang lain”.

Untuk dalil wanita haid dan nifas tercantum di dalam hadits, dari ‘Aisyah dalam Shahih Muslim no: 335:

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

“Kami dulu mengalami haidh. Kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.”

Setahun berlalu dan untuk menyambut ramadahan tentu bagi kamu perempuan harus segera melunasi puasa yang telah ditinggalkan pada Ramadhan tahun lalu.

Jika hingga saat ini belum juga menggantinya maka bulan Sya’ban merupakan bulan terakhir untuk membayar hutang puasa tersebut, sebagaimana dilakukan oleh Aisyah RA.

Dari Abu Salamah, ia mendengar ‘Aisyah Ra. mengatakan:

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ . قَالَ يَحْيَى الشُّغْلُ مِنَ النَّبِىِّ أَو بِالنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم

“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, No. 1950; Muslim, No. 1146)

Sebagai seorang perempuan yang telah meninggalkan puasa pada bulan ramadhan memiliki kewajiban untuk membayarnya.

Meski mengganti puasa tidak bisa menyamai pahala dengan orang yang melakukannya dalam bulan suci, namun tidak boleh meninggalkan kewajibannya sebagai muslim yang sudah tergolong Mukallaf.

Doktor Abdul Malik Al-Qasim berpendapat dalam kitab Durus al-Am karya, barang siapa yang masih memiliki hutang puasa pada bulan Ramadhan tahun lalu ketika sudah memasuki bulan Sya’ban, maka ia memiliki kewajiban untuk mengganti atau mengqadha puasanya dengan segera dan atas kemampuannya.

Ia tidak boleh menunda puasa tersebut setelah bulan Ramadhan berikutnya tanpa ada udzur (halangan).

Jika sudah memasuki bulan Sya’ban maka tentu bagi seorang perempuan harus menyegerakan puasa yang telah ia tinggalkan.

Namun bagaimana ketika sudah memasuki masuk pertengahan bulan Sya’ban apakah masih diperbolehkan untuk mengganti puasa?

Tentu kewajiban tetaplah kewajiban sehingga bagi yang masih memiliki tanggungan walau sudah memasuki pertengahan bulan Sya’ban adalah tidak berlaku.

Karena masa mengganti puasa Ramadhan dimulai dari bulan Syawal dan berakhir hingga bulan Sya’ban.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ، فَلَا تَصُومُو

“Jika sudah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah berpuasa.” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Dalil diatas dijadikan sebagai acuan dilarangnya berpuasa diakhir bulan Sya’ban. Namun al-Munawi memberikan keterangan dalam kita Fathul Qadir untuk hadist diatas sebagimana berikut.

أي يحرم عليكم ابتداء الصوم بلا سبب حتى يكون رمضان

“Maksud hadis, terlarang bagi kalian untuk memulai puasa tanpa sebab, sampai masuk bulan Ramadhan”

Adapun maksud dari “Puasa tanpa sebab” adalah puasa sunnah mutlak, atau bagi seseorang yang tidak memiliki kewajiban mengqadha’ puasa.

Sehingga hadist itu adalah larangan bagi seseorang yang hendak ingin berpuasa sunnah saja sedangkan tidak berlaku seseorang yang masi memiliki hutang puasa Ramadhan.

Karena seseorang tersebut wajib menggantinya sebelum datang Ramadhan berikutnya.

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam kitab Fathul Bari bahwa tidak ada dilil yang menybutkan seorang perempuan boleh mengundur qadha’ karena ada halangan atau tidak.

Namun yang dianjurkan adalah mengqadha’ Ramadhan dilakukan dengan segera (tanpa ditunda-tunda) berdasarkan firman Allah Ta’ala yang memerintahkan untuk bersegera dalam melakukan kebaikan,

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. al-Mu’minun: 61). [bincangsyariah.com]

Tags: #Ganti Puasa #Puasa Ramadahan #Qhada Puasa

Author: 
    author