Kamu Sering Bosan Sama Pasanganmu Setelah Menikah? Coba Pahami Ini

414 views

Bukan rahasia lagi kalau manusia adalah satu-satunya makhluk yang gampang bosan.

Tidak peduli seberapa kencang jaringan internet di rumahnya, seberapa canggih gadget yang ia punya, seberapa banyak game di hard disk komputernya, akan ada saatnya ia bengong tidak tahu mau berbuat apa.

Kita boleh bersyukur karena kebosanan adalah ibu dari segala penemuan. Jika Edward Cartwright tidak bosan melihat pekerjaan tukang tenun yang lamban, ia tidak akan menciptakan mesin tenun pakaian.

Thomas Alfa Edison juga tidak akan menciptakan 1.093 penemuan kalau ia tidak bosan di bengkel kerjanya.

Barang-barang yang Anda pakai adalah hasil dari kebosanan. Namun, ketimbang menciptakan hal-hal yang berguna ketika bosan, kebanyakan orang justru menciptakan masalah baru.

Dalam romansa misalnya. Anda tentu pernah merasa bosan ketika masih jomlo; kotak inbox isinya pesan dari teman-teman sesama jenis melulu, setiap malam minggu kegiatan Anda cuma nongkrong bareng teman-teman yang (lagi-lagi) sesama jenis juga, tidak ada lawan jenis yang menyiram isi hati Anda yang dilanda musim kemarau panjang. Anda bosan dengan kejomloan, Anda muak kesepian.

Loading...

Kebosanan itu memotivasi Anda untuk mencari pasangan. Dengan semangat 45, Anda mencoba PDKT ke seseorang dan berhasil! Anda akhirnya punya pasangan.

Akun Instagram Anda tidak lagi dipenuhi foto selfie wajah Anda, tapi sudah terganti foto berdua dengan pasangan.

Tiap malam minggu kalian nge-date di luar sambil gandengan tangan. Dunia seolah milik berdua. Rasanya kebahagiaan ini tidak mungkin berakhir, tapi…

Setelah hubungan berjalan satu tahun, embrio kebosanan lagi-lagi muncul di benak Anda. Anda bosan dengan kegiatan pacaran yang itu-itu saja.

Setiap sore, Anda harus menjemputnya pulang kerja. Malamnya, kalian teleponan sampai salah satunya pingsan karena menahan kantuk.

Paginya, Anda mengiriminya pesan ucapan selamat pagi dan emoticon cium. Sorenya sepulang kerja, Anda harus menjemputnya lagi. Begitu terus seperti bianglala yang berputar tanpa henti.

Otak cerdas Anda berpikir: “Oh, mungkin dengan menikahinya aku bisa terbebas dari rasa bosan.”

Anda pun mengajak pasangan ke restoran yang didekorasi seromantis mungkin. Di tengah-tengah makan malam, Anda mengeluarkan cincin emas dan melamar pasangan Anda.

Untung saja ia menerimanya, kalau tidak maka sia-sia saja mengorbankan setengah tabungan Anda untuk membeli cincin.

Dengan pedoman zodiak dan primbon, Anda menemukan tanggal yang cocok untuk menikah. Pernikahan pun dilangsungkan dengan meriah; semua teman-teman, saudara, dan follower Anda datang dan mengucapkan selamat.

Kalian menjadi raja dan ratu sehari. Otak Anda girang bukan kepalang. “Inilah dia akhir yang bahagia. Selamat tinggal rasa bosan!”

Hari-hari yang berbahagia itu lewat, tergantikan oleh bulan dan tahun. Setelah usia pernikahan Anda menginjak 3 tahun, kepala Anda rasanya mau meledak karena bosan.

Bosan karena harus bertengkar soal siapa yang paling menghabiskan uang belanja. Bosan karena tidak ada bahan obrolan menarik selain ratusan masalah kantor.

Bosan karena tidak bisa main video game lagi karena seluruh waktu Anda tersedot untuk mengurusi anak.

Bosan rutinitas Anda tak ubahnya hamster yang berlari di roda plastik. Parahnya lagi, Anda tidak bisa lari dari kebosanan itu karena harus bersama pasangan setiap hari.

Apa yang harus Anda lakukan agar cinta di dada Anda terus bergejolak tanpa dihantui kanker bosan?

Pertama, Anda harus menerima kenyataan bahwa rasa bosan PASTI MUNCUL di setiap tingkat hubungan.

Tidak peduli apakah Anda berada di tingkat pacaran atau menikah, Anda tidak bisa lari darinya. Dia akan terus menginfeksi otak Anda sampai Anda menyadari ada yang tidak beres dengan diri Anda.

Masalahnya adalah banyak yang menganggap bahwa rasa bosan itu bisa diusir pergi dengan menaikkan tingkat hubungan. Bosan jomlo? Oh, cari pacar saja nanti ia bakal hilang sendiri.

Bosan pacaran? Oh gampang, nikahi saja nanti bosan itu pamit sendiri. Nah ketika bosan menjalani pernikahan, Anda bingung karena tidak ada tingkat hubungan yang lebih tinggi selain pernikahan.

Kalaupun mau bercerai karena bosan, alasannya konyol sekali. Masa mau bercerai karena bosan? Anda bisa jadi bahan tertawaan di KUA.

Sumber: kelascinta.com

Tags: #Mengtasi Kebosanan #Menjaga Keluarga #Rasa Bosan