Katanya “Ibu Madrasah Utama” , Kok Anaknya Masuk PAUD?

606 views

Banyak parenting quotes yang mengangkat soal peran ibu dalam keluarga, salah satunya adalah tentang ibu merupakan madrasah pertama dan utama.

Dalam 5 tahun pertama atau biasa disebut masa golden age, alangkah baiknya anak dibiarkan tumbuh dan berkembang bersama ibunya di rumah.

Sejujurnya saya sangat setuju dengan pendapat demikian, tetapi semakin berjalannya waktu pemahaman tentang “Ibu adalah Madrasah Utama” ini menjadi bergeser bahkan membuat perih.

Mengapa begitu?

Suatu kali saya pernah membaca sharing seseorang di instagram tentang peran ibu yang hakikatnya menjadi sekolah pertama bagi anaknya.

Ya, sekolah pertama yang ia maksud adalah anak-anak berusia dini atau masih dalam masa golden age seharusnya tidak duduk di bangku sekolah formal seperti Preschool atau PAUD (Pendididikan Anak usia Dini).

Semakin dalam saya membaca, semakin membuat kening saya berkerut. Isinya tidak lain soal pendapatnya yang tidak menyetujui anak-anak di bawah 5 tahun untuk bersekolah.

Meski ditulis dalam bahasa yang halus dan sopan, tetapi isinya sungguh memilukan. Bisa dibilang kenyinyiran yang dibalut dengan kelembutan, tulisannya tetap saja menyakiti para orang tua khususnya kaum ibu yang menyekolahkan anaknya di Preschool atau PAUD.

Fenomena sindir-menyindir antar ibu sebenarnya bukan hal baru, sejak pilihan untuk melahirkan secara normal atau sectio, ASI vs SUFOR, pospak atau clodi dan lain sebagainya.

Sekarang mulai merambah dunia pendidikan homeschooling atau preschool, mereka yang memutuskan untuk memasukkan anaknya ke sekolah sebelum usia 5 tahun dipandang sebelah mata. Dengan alasan bahwa mengabaikan kodrat bahwa “Ibu adalah Madrasah Pertama”.

Salam hangat untuk buibu seantero jagat…

Ketahuilah bahwa peran ibu tidak pernah tergantikan sepanjang masa, perempuan memang sudah terlahir sebagai pembawa generasi dan pendidik untuk anak-anaknya.

Tidak perlu menganggap remeh para ibu yang tidak ikut memberikan pembelajaran untuk anaknya di rumah. Dengan rajin dan konsisten memberikan berbagai aktivitas berbeda setiap hari untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Membuat berbagai DIY dan menggunakan metode ini itu yang dianggap sesuai dengan “zaman”.

Sedihnya, terkadang kita lupa bahwa ‘madrasah’ yang dimaksud bukan hanya seputar “pendidikan nyata” .

Untuk para ibu yang selalu menanamkan nilai-nilai baik seperti meminta maaf, berkata tolong, mengucap terima kasih, menunggu antrian, saling berbagai dan lain-lain adalah termasuk pendidik utama di dalam keluarga dan pertama bagi anak itu sendiri, terlepas menyekolahkan anaknya atau tidak.

Hal lain yang juga kadang terlupakan adalah menyekolahkan anak ke institusi pendidikan bukan berarti kita sebagai orang tua langsung lepas tangan dan menyerahkan segalanya pada pihak sekolah.

Orang tua khususnya ibu, mempunyai peran yang jaaaaauh lebih besar dari sekolah. Yaitu membangun kecerdasan spiritual dan emosional anak yang masih sering tak disadari, karena kita terlalu fokus pada peningkatan intelligentsia anak.

Buat saya, menyekolahkan atau tidaknya anak di masa golden age sepenuhnya adalah keputusan orang tua. Keduanya pasti merupakan pilihan yang terbaik, bagi masing-masing orang.

Para ibu yang memiliki kreativitas tinggi dan waktu kebersamaan yang banyak untuk selalu berkegiatan bersama anaknya di rumah, patut diacungi dua jempol.

Apalagi untuk mereka yang konsisten memberikan aktivitas yang berbeda-beda setiap harinya, membuat pengajaran sederhana untuk pendidikan anak dan banyak membuat kerajinan bersama.

Lantas apa semua orang harus begitu?

Apakah dengan tidak memilih homeschooling, seorang ibu pantas disebut payah?

Banyak yang menganggap bahwa kegiatan ‘begitu saja’ masa tidak bisa, padahal sama-sama stay at home mom.

Ingat, bahwa kita tidak bisa menyamaratakan kemampuan seseorang. Mungkin ia mampu membuat beberapa aktivitas tapi tidak cukup konsisten, mungkin dari segi kreativitas ia bisa tapi tidak punya banyak waktu karena harus mengurus hal lain.

Memutuskan untuk homeschooling itu baik, dan menyekolahkan anak untuk Preschool juga sama baiknya.

Toh keduanya bertujuan mendidik anak, tanpa menghilangkan peran ibu sebagai madrasah utama.

Banyak ibu yang merasa kesulitan untuk menyampaikan pembelajaran untuk anaknya sehingga ia butuh pihak sekolah untuk membantu, sama sekali bukan menggantikan peran atau melepaskan tanggung jawab.

Memang pada dasarnya orang tua adalah sekolah pertama bagi anaknya, ibu sebagai guru dan ayah sebagai kepala sekolah.

Hal itu sesungguhnya melekat pada masing-masing keluarga, pun ada perintah di Al-Quran soal demikian.

Ketika anak sejak hadir di dunia selalu ditanamkan kebaikan, kelak hingga dewasa dia selalu dipenuhi nilai-nilai positif. Dan begitu pun sebaliknya.

Menyekolahkan anak di usia dini atau tidak merupakan pilihan masing-masing, yang terpenting jangan sampai keputusan kita malah mengurangi kadar kebahagian antara ibu dan anak.

Anak-anak entah belajar dengan tangan kita atau gurunya tetaplah anak kita, sama-sama memiliki tujuan yang baik. Meski banyak yang berbicara ini itu atas pilihan kita, biarkan lah.

Karena sesungguhnya yang paling mengetahui, apa yang tepat untuk kesayangan kita adalah diri kita sendiri.

Kenapa?

Karena kita adalah madrasah pertama dan utama.

Sumber: diaryofalfarabi

Tags: #Madrasah Utama #Masuk PAUD #Peran Ibu