Kisah Ibu Sa’ad bin Malik yang Tidak Akan Makan Sampai Mati Karena Sebab Anaknya

464 views

Sa’ad bin Malik adalah sosok anak yang sangat berbakti pada orang tua. Seorang anak yang selalu tunduk pada sang ibunda dan sayang padanya.

Ketika hidayah membawanya pada agama yang indah dan damai sang ibu merajuk pada Sa’ad bin Malik. Namun sikap Sa’ad bin Malik tetap gigih dan teguh dengan agama yang dianutnya, yaitu agama islam.

Dalam kisahnya dapat kita jadikan teladan tentang kegigihan hati dalam menjaga agamanya.

Dari Asma binti Abu Bakar ia berkata, “Ibuku mendatangiku, sedangkan ia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah.

Maka aku meminta fatwa kepada Rasulullah dengan mengatakan, “Ibuku mendatangiku dan dia menginginkan aku (berbuat baik kepadanya),

apakah aku (boleh) menyambung (persaudaraan dengan) ibuku?” beliau bersabda, “Ya, sambunglah ibumu,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Loading...

Ibnu Hajar Rahimahullah bekata, “Kemudian bahwa berbakti, menyambung persaudaraan dan berbuat baik itu tidak mesti dengan mencintai dan menyayangi (terhadap orang kafir walaupun orang tuanya) yang hal itu dilarang di dalam firman Allah,

“Kamu tidak akan menjumpai satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,” (AlMujadilah: 22).

“Karena sesungguhnya ayat ini umum untuk (orang-orang kafir) yang memerangi ataupun yang tidak memerangi,” (Fathul Bari V/ 233).

Dalam kitabul ‘Isyrah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Sa’ad bin Malik , dia berkata,

“Dahulu aku seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku. Setelah masuk Islam, ibuku berkata,

“Hai Sa’ad! Apa yang kulihat padamu telah mengubahmu, kamu harus meninggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati, lalu kamu dipermalukan karenanya dan dikatakan: Hai pembunuh ibu!”

Aku menjawab, “Hai Ibu! Jangan lakukan itu.” Sungguh dia tidak makan, sehingga dia menjadi letih. Tindakannya berlanjut hingga tiga hari, sehingga tubuhnya menjadi letih sekali.

Setelah aku melihatnya demikian aku berkata, “Hai Ibuku! Ketahuilah, demi Allah, jika kamu punya seratus nyawa, lalu kamu menghembuskannya satu demi satu maka aku tidak akan meninggalkan agamaku ini karena apapun.

Engkau dapat makan maupun tidak sesuai dengan kehendakmu,” (Tafsir Ibnu Katsir III/791).

Jadi dapat kita bahwa agama ini (islam) adalah segalanya yang tak bisa di tukar dengan apapun sebab agama yang benar adalah agama islam.

Tags: #Agama Islam #Pindah Agama #Sa’ad bin Malik