Kotoran Cicak Tidak Najis, Ini Penjelasannya

1436 views

Kotoran itu menjijikkan dan najis, tapi tidak dengan kotoran cicak. Berikut ini beberapa alasan dari ulama terkemuka yang tidak menghukumi najis tai/kotoran cicak:

1. Karena Cicak Tak Memiliki Darah
Pendapat pertama ini tidak menghukumi najis karena cicak masuk dalam golongan hewan tidak berdarah yang bankainya tidak najis.

Dalam kitab al-Majmu’ karya Imam Nawawi yang juga penganut Mazhab Syafii berpendapat:

وأما الوزغ فقطع الجمهور بأنه لا نفس له سائلة

“Untuk cicak, mayoritas ulama menegaskan, dia termasuk binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir.” (al-Majmu’, 1:129)

Lewat kitab an-Nihayah, ar-Ramli yang juga pengikut Imam Syafi’ie juga berpendapat hal yang sama:

ويستثنى من النجس ميته لا دم لها سائل عن موضع جرحها، إما بأن لا يكون لها دم أصلاً، أو لها دم لا يجري

“Dikecualikan dari benda najis (tidak termasuk najis), bangkai binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir ketika dilukai, baik karena tidak memiliki darah sama sekali atau memliki darah, namun tidak mengalir. Seperti cicak, tawon, kumbang, atau lalat. Semuanya tidak najis bangkainya.: (Nihayah al-Muhtaj, 1:237)

Loading...

Sementara penganut madzhab Hanbali, Imam Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni, berpendapat:

مَا لَا نَفْسَ لَهُ سَائِلَةٌ ، فَهُوَ طَاهِرٌ بِجَمِيعِ أَجْزَائِهِ وَفَضَلَاتِهِ

“Binatang yang tidak memiliki darah mengalir semua bagian tubuhnya dan yang keluar dari tubuhnya (kotorannya) adalah suci.” (al-Mughni, 3:252).

2. Kotoran Cicak Termasuk Najis yang Dimaafkan
Pendapat yang kedua ini menghukumi kotoran cicak termasuk najis, tapi dimaafkan. Jadi tak perlu disucikan dan cukup dibersihkan ala kadarnya saja.

Keterangan selengkpanya termaktub dalam kitab Hasyiyah Qolyubi juz 1 halaman 209. Berikut ini lebih jelasnya:

(ويعفى) أي في الصّلاة فقط، أو فيها وغيرها ما مرّ على عامر. قوله: (عن قليل دم البراغيث) ومثله فضلات ما لا نفس له سائلة. قال شيخ شيخنا عميرة ومثله بول الخفّاش، كما في شرح شيخنا ورجّح العلّامة ابن قاسم العفو عن كثيره أيضا. قال وذرقه كبوله، وقال تبعا لابن حجر، وكذا سائر الطّيور، ويعفى عن ذرقها وبولها، ولو في غير الصّلاة على نحو بدن أو ثوب قليلا أو كثيرا رطبا أو جافّا ليلا أو نهارا لمشقّة الاحتراز عنها فراجعه مع ما ذكروه في ذرق الطّيور في المساجد

“Imam Ibnu Qasim berpendapat bahwa kotoran kelelawar sama halnya seperti kencingnya, pendapat beliau ini mengikuti Imam Ibnu Hajar, dan hal ini sama dengan jenis burung yang lainya. Kotoran dan air kencingnya hukumnya dima’fu meskipun itu terjadi dalam selain shalat seperti terkena pada badan atau baju, baik najisnya sedikit atau banyak, basah ataupun kering, dan malam atau siang dikarenakan sulit untuk menjaganya, dan apa yang telah tertuturkan tadi itu hukumnya sama (dima’fu) dengan kotoran burung yang berada di dalam masjid.”

Dasar hukumnya cicak tidak najis itu karena setiap hewan yang tidak memiliki darah mengalir hukum bangkai dan kotorannya suci. Tapi selain itu, karena cicak termasuk hewan yang sulit dihindari dan selalu berkeliaran di rumah kita.

Sehingga kotorannya pun akan sering kita jumpai dan tidak bisa kita hindari, maka najis tersebut dianggap sebagai najis yang diampuni. Dan hukum yang lebih ringan kotoran cicak itu suci. [bincangsyariah.com]

Tags: #Kotoran Cicak #Najis #Tidak Najis