Makanan Bekas Kucing, Apakah Dihukumi Najis?

244 views

Pada kajian fiqih, ada istilah as-su’ru. Istilah ini kerap didefinisikan menjadi:

فَضْلَةُ الشُّرْبِ وَبَقِيَّةُ الْمَاءِ الَّتِي يُبْقِيهَا الشَّارِبُ فِي الإْنَاءِ أَوْ فِي الْحَوْضِ ثُمَّ اسْتُعِيرَ لِبَقِيَّةِ الطَّعَامِ أَوْ غَيْرِهِ

“Bekas minum dan sisa air yang ditinggalkan oleh orang yang minum dari suatu wadah atau telaga, kemudian digunakan untuk sisa makanan dan selainnya.”

Ustadz Ahmad Syarwat, LC menjelaskan tentang hukum su’ru atau bekas minum hewan. Pembahasan dalam masalah cukup luas.

Mengenai su’ru hewan itu dibagi dua pertama ada yang najis, dan kedua ada yang tidak najis.

Ulama berbeda pendapat dalam menyikapi hukum kucing. Ada ulama yang mengatakan najis dan ada pula ulama yang mengatakan tidak najis.

Loading...

Menurut At-Thahawi kucing hukumnya najis karena dagingnya najis. Oleh karena juga ludahnya atau sisa minumnya  juga najis. Karena dagingnya juga najis.

Akan tetapi ada dalil khusus yang menyebutkan kalau sisa minum kucing tidak najis. Sehingga ketentuan umum itu tidak berlaku yaitu ketentuan bahwa semua yang dagingnya najis maka ludahnya pun najis. Minimal khusus untuk kucing.

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجِسٍ إَنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِيْنَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

Rasulullah SAW bersabda, “Kucing itu tidak najis sebab kucing itu termasuk yang berkeliaran di tengah kita,” (HR. Abu Daud, At-Tirmizy, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad).

Al-Kharkhi dan Abu Yusuf menjelaskan su’ru kucing hukumnya makruh. Dengan alasan kucing itu sering memakan tikus yang menyebabkan su’runya ketika itu menjadi najis.

Imam Abu Hanifah sependapat bahwa kucing yang baru saja makan tikus maka su’runya najis.

Dan jika ada senggang waktu dalam masa tertentu maka hukumnya tidak najis.

Mengenai hal ini hukum su’ru manusia jika meminum khamar maka ludahnya najis pada saat itu.

Tags: #Kucing Peliharaan #Makanan Kucing #Sisa Kucing