Mengambil Ibroh Saat Sholat Tahajud Dari Kisah Ulama yang Hafal 1 Juta Hadits

171 views

Namanya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy-Syaibani. Dia terkenal dengan nama Imam Ahmad atau di Indonesia mayoritas mengatakan Imam Hambali. Terlahir di Kota Baghdad pada Rabi’ul Awal tahun 164 H (780 M).

Dia sudah yatim sejak kecil dan hidup dalam kekurangan. Dengan berkat bimbingan  ibu shalihah, Imam Hambali menjadi sosok muslim yang taat dan mencintai ilmu, kebaikan dan kebenaran.

Tak sedikit kisah inspiratif tentang kembara  hidup ulama ini dan menghafal satu juta hadis.

Meskipun serba kekurangan mulai  usia belia tekad beliaunya menuntut ilmu sangat bersat dan luar biasa.

Dia telah berkelana ke banyak negeri dan penjuru dunia untuk menuntut ilmu dari ratusan ulama besar.

Walaupun sudsah menjadi imam besar, kebiasaannya menuntut ilmu langsung dengan mendatangi guru-gurunya masih senantiasa beliau lakukan.

Loading...

Maka tak aneh bukan bila Imam Hambali memiliki ilmu yang sangat luas. Ahmad bin Said Ar-Razi bahkan memuji ketinggian keilmuan Imam Hambali. (Lihat : Manaqib Imam Ahmad, hlm 90)

Sebagai seorang murid dia begitu hormat dan sayang kepada para gurunya. Misalnya, Imam Hambali senantiasa mendoakan salah satu gurunya, yaitu Imam Syafi seusai shalat selama 40 tahun. (Lihat : Mawsu’ah al-Akhlaq, 1/329).

Dan  sebagai guru dia amat keras mendidik dan memberikan teladan yang baik bagi murid-muridnya.

Saat dia mengetahui muridnya tidak menunaikan shalat malam, maka tak segan Imam Hambali akan berhenti mengajar murid tersebut.

Sama dengan kisah Abu ‘Ismah yang pernah bermalam di rumah beliau. Saat malam tiba, Imam Hambali sengaja menaruh air untuk berwudhu di dekat Abu ‘Ismah.

Menjelang subuh Imam Hambali membangunkan Abu ‘Ismah serta bertanya, “Untuk apa engkau datang kemari?”

“Saya datang ke sini untuk belajar hadis, wahai Imam” jawab Abu ‘Ismah.

“Bagaimana engkau mau belajar hadis sementara engkau tak terbiasa melakukan shalat tahajud? Pergi saja engkau kemana pun engkau mau!” (Lihat : Munthaliqat Thalib al-‘Ilmi, 1/176)

Imam Hambali berkata, “Zuhud itu ada tiga jenisnya. Pertama, meninggalkan keharaman. Ini adalah zuhudnya orang awam.

Kedua, meninggalkan perkara mubah yang berlebihan (baca : tak bermanfaat).

Ini adalah zuhud orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan perkara yang menyibukkan dari upaya mengingat Allah ta’ala. Ini adalah zuhud orang ‘arif (yang makrifat kepada Allah).” (Lihat : Madarik as-Salikin, II/14)

Selain memiliki sifat zuhu, Imam Hambali juga terkenal ketawadhu’-annya.

Pada suatu ketika dia pernah dipuji seseorang seraya berkata, “Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan atas jasa Anda kepada Islam.”

Lantas beliau bermuka masam, lalu menjawab. “Jangan berkata begitu, tetapi katakanlah,

‘Semoga Allah membalas kebaikan Islam atas jasanya kepadaku’. Memangnya siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

loading...
loading...

Tags: #Ibadah Wajib #Sholat Ulama #Ulama Besar