Mengetahui Istri Ternyata Sudah Tak Perawan Setelah Akad Nikah, Haruskah Diceraikan?

Ada dua kategori wanita yang tidak perawan, yaitu karena berstatus janda atau pernah berzina.

Namun dalam tulisan yang sederhana ini yang akan dibahas adalah bagaimana menikahi wanita yang tidak perawan karena berzina.

Bagaimana pandangan hukum Islam menikahi wanita yang tidak perawan tersebut.

Dalam kasus ini, Islam memerintahkan kepada siapapun yang pernah melakukan dosa terkait dengan hak Allah. Kemudian agar dosa itu dirahasikan dan diselesaikan antara dia dengan Allah.

Dia bertaubat dan menyesali perbuatannya, tanpa harus menceritakan dosanya kepada siapapun. Termasuk kepada orang terdekat (jika bisa).

Rasulullah saw menasehatkan terkait denga hal ini:

Loading...

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR Malik dalam al-Muwatha’ dan al-Baihaqi dalam Sunan as-Sughra)

Kemudian apabila sebelum menikah suami mempersyaratkan istrinya harus perawan, ternyata setelah menikah sang istri tidak perawan, maka pihak suami berhak untuk membatalkan pernikahan.

Syaikhul Islam menjelaskan,

لو شرط أحد الزوجين في الآخر صفةً مقصودة ، كالمال ، والجمال ، والبكارة ، ونحو ذلك : صح ذلك ، وملك المشترِط الفسخ عند فواته في أصح الروايتين عن أحمد ، وأصح وجهي الشافعي ، وظاهر مذهب مالك

Apabila salah satu pasangan mengajukan syarat berupa kriteria tertentu kepada calonnya, seperti suami berharta, kecantikan, atau perawan atau semacamnya, maka syarat ini sah. Dan pihak yang mengajukan syarat berhak membatalkan pernikahan ketika syarat itu tidak terpenuhi, menurut riwayat yang lebih kuat dari Imam Ahmad dan pendapat yang kuat dalam Mazhab Syafii, serta itulah yang kuat dari pendapat Imam Malik. (Majmu’ Fatawa)

Namun apabila sebelum menikah, suami tidak mempersyaratkan istrinya harus perawan, maka dia tidak memiliki hak untuk membatalkan akad.

Ibnul Qoyim menjelaskan kapan seorang suami berhak membatalkan akad nikah, jika sebelumnya dia tidak mempersyaratkan apapun.

رواية رويت عن عمر رضي الله عنه : لا ترد النساء إلا من العيوب الأربعة : الجنون والجذام والبرص والداء في الفرج وهذه الرواية لا نعلم لها إسنادا أكثر من أصبغ عن ابن وهب عن عمر… هذا كله إذا أطلق الزوج

Satu riwayat dari Umar radhiyallahu ‘anhu: wanita tidak dikembalikan (ke orang tuanya) kecuali karena empat jenis cacat: gila, kusta, lepra, dan penyakit di kemaluan. Riwayat ini tidak saya ketahui sanadnya selain dari Ashbagh, dari Ibnu Wahb, dari Umar…. aturan ini berlaku jika pihak suami tidak mengajukan syarat apapun. (Zadul Ma’ad)

Di sisi lain, terkait denga perbuatan yang dilakukan oleh wanita itu. Ada dua pendapat;

Pertama, haram. Kecuali wanita itu bertobat. Maka, menikahi wanita pezina yang sudah bertaubat hukumnya boleh.

Haramnya menikahi perempuan atau lelaki pezina itu berdasarkan pada dzahir dan keumuman firman Allah dalam surah an-Nur ayat3:

الزاني لا ينكح إلا زانية أو مشركة والزانية لا ينكحها إلا زان أو مشرك وحرم ذلك علي المؤمنين

Seorang lelaki pezina tidak boleh menikah kecuali dengan wanita pezina atau wanita musyrik. Seorang wanita pezina tidak boleh menikah kecuali dengan lelaki pezina atau lelaki musyrik. Hal itu diharamkan bagi seorang mukmin. (QS. an-Nur: 3)

Kedua, boleh dan sah nikahnya. Ini pendapat Imam Syafi’i dalam kitab Al Umm:

Imam Syafi’i berbeda pendapat dalam menafsirkan surah anNur di atas. Menurut Syafi’i, ayat di atas memiliki konteks khusus.

Selain itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa ayat di atas sudah di-naskh (diganti) oleh ayat lain.

Pendapat Syafi’i ini diperkuat dengan hadis di mana salah seorang mengeluh pada Nabi karena istrinya genit (baca, suka selingkuh). Nabi

menjawab, “ceraikan.” Orang itu berkata, “tapi saya masih mencintainya.” Jawab Nabi, “kalau begitu, jangan cerai dia.”

Kata Syafi’i, seandainya haram menikahi wanita pezina, niscaya Sahabat tadi akan disuruh menceraikan istrinya yang selingkuh itu.

Wallahu ‘alam!

Sumber: bincangsyariah.com

Tags: #Menceraikan Istri #Setelah Menikah #Tidak Perawan

Author: 
    author