Menyemir Rambut Boleh Tapi Mencabut Uban Dilarang, Mengapa Demikian?

360 views

 

Sering muncul pertannyaan kenapa mencabut uban dilarang sedang menyemir  rambut dibolehkah?

Ustaz Farid Nu’man Hasan menukil keterangan Imam Ibnul ‘Arabi rahimahullah:

إنما نهى عن النتف دون الخضب، لأن فيه تغيير الخلقة عن أصلها، بخلاف الخضب فإنه لا يغير الخلقة على الناظر إليه

“Sesungguhnya larangan ini hanyalah bagi pencabutan uban bukan mewarnai, karena di dalamnya terdapat upaya mengubah ciptaan Allah dari aslinya.

Berbeda dengan mewarnai karena dia tidak merubah ciptaan bagi orang yang melihatnya.”

Loading...

(Fathul Bari, 10/355, Darul Fikr. ‘Aunul Ba’bud, 11/171, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tuhfah Al Ahwadzi, 8/108, Al-Maktabah As-Salafiyah)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن اليهود والنصارى لايصبغون فخالفوهم

Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani tidak menyemir (rambut), maka berbedalah dengan mereka.” (HR. Abu Daud No. 4203, An Nasa’i No. 5069, Ibnu Majah No. 3621)

Dapat disimpulakn dari Hadis di atas adalah: pertama, anjuran berbeda dengan Yahudi dan Nasrani dengan cara menyemir rambut, dan ini sunah.

Kedua,  boleh menyemir rambut secara mutlak dengan warna apa saja, sebab hadits ini tidak mengkhususkan warna tertentu.

Tetapi dalam riwayat Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebut dua warna:

خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم على مشيخة من الأنصار بيض لحاهم فقال: يا معشر الأنصار حمروا وصفروا وخالفوا أهل الكتاب

” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersama seorang tua dari Anshar yang rambutnya putih merata. Maka dia bersabda: “Wahai orang Anshar, warnailah dengan merah dan kuning, dan berbedalah dengan ahli kitab.” (HR. Ahmad, sanadnya hasan. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari 10/354)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah secara khusus melarang warna hitam. Saat datang Abu Quhafah (ayah Abu Bakar Shiddiq) pada hari Fathul Makkah, yang rambutnya sudah memutih seluruhnya. Maka Rasulullah bersabda:

“Ubahlah rambutnya ini dengan sesuatu, dan jauhilah warna hitam.” (HR Abu Daud No. 4204, An Nasa’i No. 5076)

Dari hadits ini adalah sebuah petunjuk atas bolehnya menyemir rambut beruban dengan berbagai warna, selain hitam, karena itu haram menurut pendapat kalangan Syafi’iyah.

Hadis sebelumnya bersifat umum (muthlaq), dan hadis ini adalah muqayyad (spesisifik).

Maka sesuai kaidah Hamlul Muthlaq Ilal Muqayyad, yang mutlak (umum) harus dibawa/dibatasi (taqyid) kepada yang muqayyad.

Hadits ini adalah pengecualian dari hadis sebelumnya. Alhasil  semua warna boleh kecuali hitam.

Tapi sebagian sahabat dan tabi’in ada yang menyemir rambutnya dengan warna hitam. Imam Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

ولهذا اختار النووي أن الصبغ بالسواد يكره كراهية تحريم. وعن الحليمي أن الكراهة خاصة بالرجال دون النساء فيجوز ذلك للمرأة لأجل زوجها. وقال مالك: الحناء والكتم واسع، والصبغ بغير السواد أحب إلي

Oleh karena itu pendapat yang dipilih oleh An-Nawawi adalah bahwa menyemir dengan warna hitam adalah makruh, dengan makruh tahrim (mendekati haram).

Dari Al-Hulaimi, bahwa kemakruhannya khusus bagi laki-laki dan tidak bagi wanita, hal itu boleh bagi wanita demi membahagiakan suaminya.

Malik berkata: diberikan keluasan bagi Inai dan Al Katam, dan menyemir dengan selain hitam lebih aku sukai.” (Fathul Bari, 6/499. Darul Fikr)

loading...
loading...

Tags: #Mencabut Uban #Menyemir Rambut #Uban Putih