Nabi SAW Pernah Kuli Nimba Air Pada Orang Badui

Rasulullah mengajarkan kita sabar dalam setiap keadaan. Beliau cerminan suri tauladan paripurna perihal kesabaran.

Terdapat banyak kisah tentang bukti kesabaran beliau. Contohnya, adalah cerita yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, sebagai berikut;

Pada saat itu, Madinah mengalami kekeringan yang sangat panjang. Tak sedikit kebun gagal panen.

Dan penduduk kota juga kesulitan pangan. Keluarga Rasulullah SAW juga turut merasakan kesusahan itu.

Sampai, Nabi SAW mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan lapar.

Pada suatu hari, nabi bertantang ke kediaman Fathimah az-Zahra. Istri Ali bin Abi Thalib itu menyampaikan keadaan diri dan anak-anaknya yang belum makan selama beberapa hari terakhir.

Loading...

“Ayah,” kata Fathimah, “kami sekeluarga sudah tiga hari tidak makan.”

Maka dengan perasaan haru, Nabi SAW menampakkan perut beliau yang saat itu diganjal dengan batu yang terikat.

“Fathimah, bila engkau sudah tiga hari tidak makan, ayahmu sudah empat hari,” kata beliau.

Nabi SAW pun pamit dari rumah tersebut sembari bergumam, memikirkan keadaan mereka, “Aduh kasihan, Hasan dan Husain sangat lapar.”

Kemudian nabi perjalanan ke luar wilayah Madinah. Langkahnya berhenti di dekat sebuah sumur.

Tak lama kemudian, seorang pemuda menghampirinya. Orang Badui itu tidak tahu bahwa lelaki di hadapannya adalah Rasulullah SAW.

“Wahai Badui,” ujar Nabi SAW setelah mengucapkan salam, “adakah pekerjaan yang dapat engkau berikan untukku?”

“Ada,” jawabnya.

“Apa itu?”

“Menimba air di sumur ini untukku. Aku akan memberikanmu tiga buah kurma pada setiap timbaan sebagai imbalannya,” tutur pemuda Badui tersebut.

Maka Rasul SAW pun langsung menimba air di sumur itu. Pada timbaan yang pertama, semua berjalan lancar.

Ember milik si Badui mulai terisi air, sedangkan beliau mendapatkan upah tiga butir kurma. Berikutnya juga baik-baik saja.

Akan tetapi, saat Nabi SAW menimba untuk kali yang kesembilan tiba-tiba tali timba putus dan jatuh ke dalam sumur. Beliau berhenti dan sempat merasa kebingungan.

Melihat itu, si Badui langsung memarahinya. Dengan cepat, tangannya menampar keras pipi Rasulullah SAW.

Ia kemudian melempar 24 kurma yang sudah menjadi hak beliau dan meninggalkannya begitu saja.

Walaupun Diperlakukan demikian, Nabi SAW tidak menunjukkan sikap marah sama sekali.

Dengan sabar, beliau masuk ke dalam sumur untuk mengambil timba yang tadi terjatuh. Lalu, tali timba itu diikatnya lagi dengan kuat.

Sebelum melangkah pulang, beliau mengucapkan salam dan terima kasih kepada si Badui yang mempekerjakannya.

Begitu Nabi SAW sudah menjauh, pemuda tersebut mulai berpikir, mengapa orang yang ditamparnya tidak marah-marah? “Jangan-jangan, orang itu adalah Muhammad!” gumamnya.

Ia langsung mengambil sebilah pedang dan memotong tangannya yang telah menampar pipi beliau. Karena panik, ia pun jatuh pingsan.

Beberapa saat kemudian, sekelompok musafir lewat di depan rumahnya. Mereka kaget dan tertegun melihat seorang pemuda tergeletak dengan tangan kanan yang putus.

Setelah menyiramnya dengan air, para musafir itu bertanya, “Wahai pemuda, musibah apa yang menimpamu?”

“Saya telah menampar seseorang yang saya sangka adalah Muhammad! Karena itu, saya pun memotong tangan yang menamparnya.

Saya takut akan ditimpa bencana kalau tidak melakukannya,” jawab si Badui.

Ia pun dibantu para pengembara yang kebetulan lewat itu untuk pergi ke pusat Madinah.

Dengan membawa potongan tangannya, pemuda tersebut berteriak-teriak di tengah pasar, “Muhammad! Muhammad!”

Rasulullah SAW yang sedang memberikan kurma kepada Hasan dan Husain mendengar seruan itu. Fathimah dimintanya untuk menghampiri sumber suara.

Ternyata, pemuda Badui tersebut sudah lebih dahulu mendekat ke Fathimah, sementara orang-orang mulai ramai berkerumun.

Betapa terkejutnya putri Nabi SAW itu melihat seorang laki-laki dengan darah berlumuran di ujung lengannya, sembari menenteng potongan tangan.

“Apa yang terjadi?” tanya Fathimah.

Nabi SAW keluar dari rumah dan mendapati pemandangan mengerikan yang sama. Begitu melihat kedatangan beliau, si Badui langsung jatuh tersungkur sambil memohon ampun.

“Muhammad, maafkanlah saya yang telah menamparmu! Sungguh, aku khilaf karena tidak mengenalmu,” kata dia.

“Mengapa tanganmu terpotong?” tanya beliau.

“Celakalah tanganku yang telah menyakitimu,” jawabnya.

“Masuklah Islam supaya kamu selamat,” kata Nabi SAW lagi.

Maka pemuda tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.”

Kemudian Rasulullah SAW sekjab menatap tangan Badui yang terputus itu. Nabi lantas memegangnya.

Sambil berdoa, tangan itu diusapnya dan disambung ke tempat asalnya. Dengan izin Allah Ta’ala, tangan itu kembali seperti sedia kala.

Sungguh gembira pemuda Badui tersebut. Ia bersyukur karena tangannya sudah normal lagi, dan telah memeluk Islam, menjadi umat Nabi Muhammad SAW.

Tags: #Nabi Sederhana #Upah Nabi