Pertimbangkan Ini Dulu Sebelum Menceritakan Masa Lalumu Pada Pasangan

1082 views

Setiap orang memiliki masa lalu entah masa lalu yang menyakitkan atau masa lalu yang membahagiakan. Apalagi jika itu tentang orang yang pernah ia cintai namun menyakiti.

Tentu masa lalu yang bahagia ketika diceritakan akan membuat kita bahagia namun bagaimana jika cerita yang kita miliki buruk dan sangat menyakitkan?

Apakah kita perlu menceritakan semua itu kepada orang terdekat kita terutama pasangan kita, atau dibiarkan begitu saja mengendap didalam jiwa.

Menceritakan masalah lalu buruk dan menyakitkan tidaklah mudah namun jika itu kepada calon kita maka ceritanya sudah berbeda.

Sebab pernikahan harus didsari oleh kejujuran, saling percaya. Akan tetapi apakah harus mengatakan tentang masa lalu?

Ustazah Herlini Amran, MA. di dalam Islam didasari dan mementingkan cara hidup yang baik dan positif, maka tak ada kesempatan bagi kita sebagai umat muslim untuk tenggelam pada masa lalu yang kelam.

Loading...

Seseorang yang pernah melakukan kesalahan, pernah berbuat dosa, pernah khilaf bisa diampuni dengan bertaubat kepada Allah.

Yaitu memohon Ampun kepada Allah SWT atas kekhilafanya serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Dan setiap harinya menjadi orang yang lebih baik.

“Dan tobat nasuha berarti tutup buku dari masa lalu yang kelam,” tambah Ustadzah Herlini pula.

Para sahabat Nabi pun juga memiliki masa lalu yang kelam namun bisa diputihkan dengan cara bertaubat nasuha dan dikarenakan tumbuhnya iman.

Misal seperti Umar bin Khattab yang mana beliau pernah mengubur anaknya secara hidup-hidup dan kemudian menjadi seorang pejuang kebenaran sejati. Beliau berubah dan tak seorangpun yang mempermasalahkan hidup mereka yang kelam.

Ustazah Herlini juga menambah penjelasan tentang hadis Nabi yang menjelaskan tentang pentingnya menjaga aib dimasa lalu dan masa kelam yang sudah ditinggalkan dengan cara bertaubat.

“Janganlah membuka aibmu, karena Allah telah menutupnya”

“Barang siapa yang membuka aib saudaranya maka kelak Allah akan membuka aibnya.”

Walau demikian, Ustazah Herlini pun tidak menutup kemungkinan ia juga memilikiaib dimasa lalu.

Dengan semangatnya ia memunculkan kebaikan, keberkahan, kejujuran didalam rumah tangganya maka harus terbuka kepada pasangan kita.

Masalah mana yang harus disimpan dan terbuka kepada pasangan menurut Yati Utoyo Lubis, MA, PhD, menyebutkan bahwa hal ini bersifat pribadi yang mana tergantung pada kepribadian masing-masing dan pribadi pasangan kita.

Masa lalu yang dianggap kelam dan pahit bisa berbeda bagi semua orang. Mungkin bagi kita sangat kelam namun bagi sebagian lagi terbilang biasa dan ringan. Sehingga soal penerimaan tentang masa lalu juga berbeda.

Ada yang bisa menerima dengan mudah tentang masa lalu pasnagannya namun ada pula yang terlalu sensetif sehingga menimbulkan masalah bagi hubungannya.

Contoh kecil saja, bagi mereka yang mencontek ketika ulangan dianggap aib dan melakukan namun bagi yang lainnya dianggap biasa saja.

Maka dari itu sikolog yang juga Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menyarankan agar kita tidak memeprtimbangkan dampak dari kejujuran kita. Karena dalam memandang cerita masa lalu setiap orang berbeda-beda.

Sebelum kita jujur tentang masa lalu kita alangkah lebih baiknya pertimbangkan hal dibawah ini terlebih dahulu:

1. Pikirkan Bagaimana Dampaknya
Pertama kali yang harus kita pertimbangkan adalah bagaimana dampak dari kejujuran kita? apakah akan berpengaruh kepada hubungan atau tidak.

Jika memang akan menimbulkan masalah maka lebih baik tidak mengungkapkannya. Hal ini disarankan oleh Yati Utoyo Lubis, beliau menyarankan untuk tidak menceritakan masa lalu yang kelam, cukup Allah dan dirinya yang tahu.

Akan tetapi Yati juga memberikan penjelasan bahwa mas alalu yang tdaik diungkap adalah masa lalu atau aib yang memang benar-benar sudah terjadi, yang sudah benar-benar ditinggalkan dan sudah taka da keinginan untuk melakukannya lagi.

Maka masa lalu yang demikian cukup menjadi pemebalajran bagi diri kita dan menjaid orang yang lebih baik lagi kedepannya.

Ustadzah Herlini juga menyarankan untuk tidak menceritakan aib yang bisa menjadikan mudarat lebih besar contoh rumah tangannya retak.

Terutama jika pasangan kita tiddak merasa curiga tengtang masa lalu kita. Maka tak perlu membuka aib dan biarkan semua masa lalu yang kelam menjadi pelajaran hidup saja.

Ada aib yang memang harus kita tutup rapat-rapat, terutama yang berkaitan dengan diri kita dan tentu hal tersebut bukan hal yang memnculkan bekas secara fisik.

Contoh seperti pernah memakai narkoba, pernah berzina, homo, korupsi dan mencuri. Hal ini bukan berarti kita merasa bebas karena kita tetap merasa khawatir, takut dosa-dosa kita tidak diampuni oleh Allah SWT.

Dengan menutup aib kita yang seperti ini maka tidak akan mendatangkan kemudaratan yang bisa membuat rumah tangganya hancur. Justru jika kita membukanya akan membuat kita mendapatkan masalah besar.

Akan tetapi tidak semua aib bisa kita ungkap justru ada aib yang harus kita utarakan kepad apasangan kita.

Jika tidak maka pasangan kita akan mengetahui dari orang lain dan justru itulah yang akan menyebabkan perpecahan didalam rumah tangga.

Contoh soal sakit yang menimpanya, cacat tubuh, latar bekalang keluarga yang tdiak harmonis dan memiliki riwayat penyakit keturunan.

Namun bagaiman ajika itu tentang hubungan seksual dimasa lalu? Baik pengalaman sesksual yang dilakukan dengan penuh kesadaran atau pemaksaan maka harus melakukan taubat nasuha.

Ustadzah Herlini menyarankan agar tidak mengungkapkannya. Walau pasangan kita bisa mengetahuinya akan tetapi hal ini kembali pada kesiapan kita dan kondisi pasangan kita.

2. Kepribadian dan Konsekuensi
Yang perlu kita pertimbangkan lagi adalah bagaimana kondisi pasangan kita dalam menyikap hal ini, apakah dia cukup dewasa secara psikologisatau tidak jika kita menceritakan masa lalu.

Menurut Yati, karena seseorang yang memiliki kepribadian dewasa maka ia akan siap mendengarkan kisah kelam pasangannya.

Ia akan lebi terbuka, akan lebih bijaksana dan yang terpenting ia tidak akan menjadikan masa lalu kita untuk menyakiti kita.

Namun bisa juga kita jujur tentang masa lalu kita jika kita sudha benar-benar merasa yakin, sudah merasa mantap dan kita tahu bahwa pasangan kita akan menerima kita apa adanya.

Akan tetapi didalam hidup terkadang kita salah dalam memperhitungkan dan melesat dari pikiran kita. Seseorang yang kita anggap dewasa atau saleh juga bisa beraksi negatif ketika kita jujur tentang masalah hidup kita.

Namun jika aibnya diungkapkan sebelum menikah maka bisa jadi nikahnya akan batal. Jika dinungkap setelah menikah mak bisa jadi rumah tangga kan retak, dipenuhi rasa curig, merasa tidak tentram dan bisa jadi akan menimbukan perceriaan.

Menurut herlini, hal inilah yang harus dipertimbangkan, jika karena hal tersebut pernikahanmu batal maka bersabrlah semoga mendapatkan pengagnti yang lebih baik.

Jika terjadi sudah menikah maka kitalah yang harus beriskap proaktif untuk mendapatkan kembali keharmonisan rumah tangga.

Kita harus memahami kekcewan pasangan kita, lalu buatlah musawah secara terbuka agar mendapatkan komunikasi yang lebih baik demi keharmoniasan rumah tangga.

Kata herli, bila pasanganmu sungguh-sungguh memahami agama islam maka dia pun akan memahmi sebab dia juga berpkir bahwa tak ad amanusia yang tdak punya kesalahan.

Lagi pula selama kita benarbenar bertaubat maka insya Allah dosa kita akan diampuni. [ummi-online.com]

Tags: #Jujur Pada Calon #Masa Kelam #Menceritakan Masa Lalu

Author: 
    author