Pria dan Wanita Berenang Dalam Satu Kolam, Ini Hukumnya

584 views

Kolam renang di tempat wisata tertentu dijadikan sebagai tempat pemandian umum yang bercampur antara pria dan wanita. Lalu bagaimana hukumnya satu kolam renang dengan lawan jenis?

Islam secara tegas menyatakan bahwa wanita yang berada ditempat umum adalah aurat, apalagi jika sampai berbaur dengan pria di dalam satu kolam renang.

Tapi ada beberapa ulama yang membolehkan pria dan wanita satu kolam renang, asal si wanita tersebut menutu aurat. Seperti dalil berikut ini:

خصوصا في هذا الزمان الذي كثر فيه اختلاط الاجانب من الرجال والنساء في مثل ذلك من غير مبالاة بكشف ما هو عورة كما هو معلوم مشاهد

“Terlebih lagi di zaman ini di mana banyak campur baur (ikhtilath) laki-laki dan perempuan bukan mahram seperti ini tanpa peduli tersingkapnya aurat sebagaimana maklum disaksikan,” (Lihat As-Syarbini, Iqna dalam Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], juz IV, halaman 226).

Tapi diperbolehkannya berbaur antara pria dan wanita (dalam satu kolam) jika ada hajat penting tertentu dan syariat Islam seperti menjaga pandangan dan aurat.

Maka dari itu, menurut Imam an-Nawawi dari Mazhab As-Syafi’i mengatakan, pria dan wanita yang bukan muhrim berbaur diperbolehkan asal tetap menjaga aturan-aturan syari’at Islam.

Loading...

Selain itu berbaurnya harus di tempat umum dan bukan di tempat sepi, berikut ini dalilnya:

فقد نقل ابن المنذر وغيره الاجماع أن المرأة لا جمعة عليها وقوله ولانها تختلط بالرجال وذلك لا يجوز ليس كما قال فانها لا يلزم من حضورها الجمعة الاختلاط بل تكون وراءهم وقد نقل ابن المنذر وغيره الاجماع علي انها لو حضرت وصلت الجمعة جاز وقد ثبتت الاحاديث الصحيحة المستفيضة أن النساء كن يصلين خلف رسول الله صلي الله عليه وسلم في مسجده خلف الرجال ولان اختلاط النساء بالرجال إذا لم يكن خلوة ليس بحرام

“Ibnul Mundzir dan ulama lain menukil ijmak bahwa perempuan tidak berkewajiban menghadiri Jumatan. Perkataan ‘Pasalnya perempuan bercampur dengan laki-laki (pada Jumatan) dan yang demikian itu tidak boleh;’ tidak seperti apa yang dikatakan ‘kehadiran perempuan pada Jumatan tidak serta merta terjadinya campur baur, tetapi ada di belakang jamaah laki-laki.’ Ibnul Mundzir dan ulama lain menukil ijmak bahwa kalau perempuan mau hadir dan shalat Jumat, tentu hal itu dibolehkan. Hadits-hadits shahih yang tersebar luas telah tetap bahwa perempuan ikut shalat bersama Rasulullah SAW di masjid di belakang jamaah laki-laki karena campur baur (ikhtilath) laki-laki dan perempuan tidak diharamkan sejauh tidak khalwat (tempat sunyi),” (Lihat An-Nawawi, Al-Majmuk, [Jeddah, Maktabah Al-Irsyad: tanpa tahun], juz IV, halaman 350). [assalaf.id]

Tags: #Bercampur Baur #Bukan Muhrim #Kolam Renang