Puasa Akan Menjadi Benteng Dari 3 Perkara Buruk Ini

134 views

Perisai adalah sebuah alat yaang berfungsi untuk melindungi dari suatu bahaya . Begitu juga seorang muslim, ia memerlukan perisai untuk berlindung dari sebuah bahaya.

Ternyata puasa adalah perisai  bagi orang yang mengerjakannya dari api neraka di akhirat kelak.

Dinukil dari kitab: Mukhtashar Ahadits ash-Shiyam, Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan menuturkan bahwa  puasa sebagai perisai atau benteng yang kokoh.

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Puasa adalah perisai. Maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula ribut-ribut.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dan jangan berbuat bodoh.” “Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Loading...

Dari Hadis di atas dapat kita simpulkan kalau orang yang puasa ditekankan menjaga kesempurnaan puasanya dan menjahui perkara yang  membatalkannya.

Dan juga menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak-akhlak yang buruk dan  tercela.

Setidaknya ada tiga makna perisai yang disampaikan hadis-hadis tentang puasa sebagai berikut:

1. Perisai Dari Perbuatan Keji
Orang yang berpuasa harus mejahui sifat buruk dan keji. Diisyaratkan oleh redaksi hadis sebagaimana dalam hadis Abu Hurairah di atas, yaitu :

“maka apabila seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, janganlah dia berkata rafats (kotor) dan jangan pula bertingkah laku jahil (sepert mengejek, atau bertengkar sambil berteriak).”

Itu artinya dengan perisai tersebut adalah kita akan terhalangi dari ucapan kotor perbuatan jahil, serta maksiat lainnya.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “…puasa menghalangi seseorang dari maksiat ketika didunia, sebagaimana firman Allah ‘Azza Wa Jalla:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183)”. (Jami’ Al-‘Ulum Wa Al-Hikam: hal.576).

2. Perisai dari Azab Neraka
Dalam hadis shahih dari Utsman bin Abil-‘Ash radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

الصيام جنة من النار كجنة أحدكم من القتال

“Puasa adalah perisai dari neraka, seperti perisai salah seorang diantara kamu dari peperangan”. (HR Ahmad, Nasai dan Ibnu Majah dengan sanad shahih)

Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah dalam Kitab Jami’ Al-‘Ulum, menuturkan: “Bila puasa adalah perisai dirinya dari berbagai maksiat (ketika didunia),

maka diakhirat kelak, puasa tersebut lebih pantas menjadi perisainya dari azab neraka, namun apabila puasa tersebut tidak bisa menjadi perisai baginya dari maksiat ketika didunia,

maka lebih-lebih lagi tidak akan menjadi perisai dirinya dari api neraka diakhirat kelak”.

3. Perisai Dari Musibah dan Bencana
Berpuasa juga akan menghalangi kita dari bencana dan musibah.

Al-Hafidz As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir bahwa Ibnu Najjaar meriwayatkan dari Hafshah dan Aisyah radhiyallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

إن الصيام جنة من النار ومن بوائق الدهر

“Sesungguhnya puasa adalah perisai dari api neraka, dan perisai dari musibah dan bencana zaman”.

As-Suyuthi berkata: “Diriwayatkan oleh Ibnu Najjar” dan menandainya sebagai hadis Dhoif. (lihat: Faidh Al-Qadir: 5059 dan At-Tanwir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir: 5042).

Meskipun hadis ini dhoif, bahkan munkar, akan tetapi kandungannya benar, karena ibadah apasaja dapat membentengi seseorang dari bencana dan musibah.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْ عَنْ كَثِيْرٍ

Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan-perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahanmu). (QS Asy Syura; 30).

Isyarat dari ayat di atas menandakan bahwa sebab turunnya bencana adalah karena dosa dan maksiat.

Sedangkan ibadah dan kebaikan akan menolak bencana dan berbagai bencana dan musibah yang akan menimpa.

Al-‘Allaamah Ash-Shan’ani rahimahullah menukil dari Imam Ibnu Abdil-Barr rahimahullah bahwa beliau berkata:

Cukuplah ini (puasa adalah perisai) sebagai karunia dan keutamaan bagi orang yang berpuasa, selama ia tidak mencoreng puasanya (mengurangi pahalanya) dengan ghibah dan dusta”. (At-Tanwir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir 7/89).

loading...
loading...

Tags: #Bencana Alam #Musibah dan Bala #Puasa Perisai