Rajin Sedekah Tapi Lalai Menafkahi Keluarga, Bagaimana Hukumnya?

113 views

Allah SWT menyediakan pahala yang tak terkira jika kita gemar bersedekah. Bagaimana jika gemar sedekah tapi lalai menafkahi keluarganya?

Sejatinya kita harus tahu mana yang harus terlebih dahulu diprioritaskan di antara keduanya.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan

dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya,” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816).

Ketika memaparkan mengenai hadits di atas, Ibnu Battol rahimahullah menjelaskan bahwa sebagian ulama mengatakan, pengeluaran harta dalam kebaikan dibagi menjadi tiga:

Loading...

1. Untuk Kepentingan Bersama
Artinya dalam mengeluarkan hartanya dengan pribadi, keluarga serta orang yang wajib dinafkahi, tidak bersifat pelit dan boros.

Tindakan seperti ini lebih afdhol dari sedekah biasa dan bentuk pengeluaran harta lainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti)

kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu” (HR. Bukhari).

2. Zakat
Menurut sebagaian ulama siapa saja yang menunaikan zakat, maka telah terlepas darinya sifat pelit.

3. Sedekah Tathowwu’
Sedekah ini seperti nafkah menyambung hubungan dengan sanak famili jauh dan teman dekat, serta memberi makan orang yang kelaparan.

Kemudian Ibnu Battol menjelaskan, “Barangsiapa yang menyalurkan harta untuk tiga jalan di atas,

maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).” (Lihat Syarh Bukhari, Ibnu Battol, 5: 454, Asy Syamilah).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskan, “Sebagian orang tatkala bersedekah untuk fakir miskin atau yang lainnya maka mereka merasa bahwa mereka

telah mengamalkan amalan yang mulia dan menganggap sedekah yang mereka keluarkan itu sangat berarti.

Adapun tatkala mengeluarkan harta mereka untuk memberi nafkah kepada keluarganya maka seakan-akan perbuatan mereka itu kurang berarti,

padahal memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib dan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya sunnah.

Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan sunnah.” (Sebagaimana penjelasan beliau dalam Riyadhus Shalihin).

loading...
loading...

Tags: #Lalai Nafkah #Nafkah Keluarga #Rajin Sedekah