Saat yang Tepat Untuk Menyerang Umat Islam: Belajar Dari Kehancuran Islam di Spanyol

GHIRNATHOH (Granada) menjelang kejatuhan muslimin di Andalus. Ratu Isabella, penguasa salib saat itu menyebar mata-mata di mana-mana untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan kaum muslimin.

Sekaligus untuk melihat kapan waktu yang tepat untuk mulai menyerang muslimin.

Salah seorang mata-mata salib memasuki kota terakhir muslimin itu. Di pinggiran kota, dia menjumpai seorang anak kecil berusia 8 tahun yang sedang menangis sendirian.

“Apa yang membuatmu menangis, nak?” tanya si mata-mata.

Anak kecil itu menjawab, “Biasanya aku melempar dengan satu batu ini dan aku dapat dua burung sekaligus. Tapi kali ini aku melempar dengan satu batu hanya dapat satu burung dan yang satunya lagi terbang.”

“Bukankah itu lumayan,” kata si mata-mata.

Loading...

“Tidak, karena kalau negeri ini dimasuki oleh tentara kafir dan aku hanya punya satu tombak lalu aku hanya bisa membunuh satu orang sementara yang satu lagi membunuhku, maka aku akan menjadi celah masuknya musuh ke negeri Islam. Aku tidak mau.”

Mendengar itu, si mata-mata terkejut luar biasa. Karena terbayang bagaimana kualitas bapaknya, kakaknya, pamannya dan kaum muslimin saat itu.

Maka si mata-mata langsung membuat laporan intelijen ke Ratu Isabella: (Bukan sekarang waktu yang tepat untuk menyerang)

20 tahun berikutnya. Mata-mata yang sama memasuki pintu kota yang sama dan di tempat yang sama menemui seorang anak muda yang sedang menangis sendirian. Hari sudah mulai memasuki senja.

Mata-mata bertanya: “Apa yang membuatmu menangis anak muda?”

Anak muda: “Saya sedang menunggu kekasih yang berjanji jumpa di tempat ini sebelum dzuhur. Sekarang sudah hampir terbenam matahari. Dia belum kunjung datang. Saya khawatir terjadi apa-apa dengannya.”

Mata-mata itu pun segera menulis laporan intelijen ke Ratu Isabella: (Sekarang waktu yang tepat untuk menyerang muslimin!)

Oleh: Ust. Budi Ashari

Sumber: pijar.net

Tags: #Islam di Spanyol #Menghancurkan Islam #Menyerang Islam