Suami Adalah Pintu Surga Untuk Istri, Lalu Bagaimana Dengan Pintu Surga Suami?

Dalam menjalin sebuah hubungan pernikahan, baik suami maupun istri adalah pintu surga masing-masing, suami adalah pintu surga istri dan istri adalah pintu surga suami.

Sehingga walaupun di tugas dan kewajiban istri hanya 2 hal yaitu melayani suami secara biologis dan taat pada perintah istri.

Tugas seperti mengurus rumah, anak dan keperluan suami adalah sebagai bentuk ketaatan seorang istri dalam keluarganya.

Jadi walaupun ada pendapat dan madzhab yang menyampaikan bahwa istri tidak harus berkhidmat kepada suami.

Seorang istri yang shalihah dan baik pastinya akan secara langsung membantu suami tanpa di minta.

Suami pun harusnya juga lebih menghargai apa yang sudah dilakukan istri dengan memberikan nafkah yang cukup, perhatian dan cinta yang besar.

Loading...

Karena rasa cintalah yang membuat seorang wanita mampu untuk mengurus anak-anak dan keluarganya tanpa pamrih.

Tugas utama laki-laki selain memenuhi keutuhan keluarga secara sandang, pangan dan papan adalah sebagai pemimpin bagi keluarga itu.

Dan kewajiban seorang istri dalam urusan suaminya setahap setelah kewajiban dalam urusan agamanya. Hak suami diatas hak siapapun setelah hak Allah dan Rasul-Nya, termasuk hak kedua orang tua.

Mentaatinya dalam perkara yang baik menjadi tanggungjawab terpenting seorang istri. Inilah dia beberapa alasannya.

Kedudukan Suami Lebih Tinggi, Bahkan Dari Orang Tua
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda,

“Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri).” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, hadis hasan shahih. Dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani)

Hak suami berada diatas hak siapapun manusia termasuk hak kedua orang tua. Hak suami bahkan harus didahulukan oleh seorang istri daripada ibadah-ibadah yang bersifat sunnah.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh bagi seorang perempuan berpuasa sementara suaminya ada di rumah kecuali dengan izinnya. Dan tidak boleh baginya meminta izin di rumahnya kecuali dengan izinnya.” (HR Bukhari Muslim).

Dalam hak berhubungan suami-istri, jika suami mengajaknya untuk berhubungan, maka istri tidak boleh menolaknya.

Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur, kemudian si istri tidak mendatanginya, dan suami tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi. (HR Bukhari Muslim).

Suami Penentu Surga dan Neraka Istri
Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda,

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat.

Suatu hari Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian?

Rasulullah pun menjawab bahwa diantarantanya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (HR Bukhari Muslim).

Taat Pada Suami Adalah Wajib dan Tidak Bisa Ditangguhkan
Rasulullah bersabda, “Dan wanita adalahpenanggungjawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR Bukhari Muslim)

Syaikhul Islam berkata, Firman Allah,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“… sebab itu, maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diriketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) …” (QS. an-Nisa [4]: 34)

Berkhidmat kepada suami dengan melayaninya dalam segala kebutuhan-kebutuhannya adalah diantara tugas seorang istri.

Bukan sebaliknya, istri yang malah dilayani oleh suami. Hal ini didukung oleh firman Allah,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) …” (QS. an-Nisa [4]: 34)

Ibnul Qayyim berdalil dengan ayat diatas, jika suami menjadi pelayan bagi istrinya, dalam memasak, mencuci, mengurus rumah dan lain-lain, maka itu termasuk perbuatan munkar.

Karena berarti dengan demikian sang suami tidak lagi menjadi pemimpin. Justru karena tugas-tugas istri dalam melayani suami lah, Allah pun mewajibkan para suami untuk menafkahi istri dengan memberinya makan, pakaian dan tempat tinggal. (Lihat Zaad Al-Maad 5/188-199 via Tanbihat, hal. 95, DR Shaleh Al Fauzan).

Bahkan Ketika Bepergian Harus Meminta Ijin Kepada Suami
Seorang istri juga tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin suami. Karena tempat asal wanita itu di rumah. Sebagaimana firman Allah,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan tinggallah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian …” (QS.al-Ahzab [33]: 33)

Ibnu Katsir berkata, Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan. (Tafsir al-Quran al-Adzim 6/408).

Syaikhul Islam berkata, Tidak halal bagi seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya, jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat nusyuz (durhaka), bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.

Sumber: ihram.asia

Tags: #Pintu Surga #Surga Istri #Surga Suami

Author: 
    author