Suami Dzalim Tapi Tidak Mau Menceraikan Istri, Ini Hukumnya

1050 views

Pernikahan tidak selalu membahagiakan, masihbanyak dari mereka para istri yang merasa terzalimi dari sang suami namun anehnya sang suami enggan untuk menceraikannya.

Sehingga banyak dari para istri bertanya tentang seputar perceraian yang banyak terjadi dilingkuangannya. Contoh:

  1. Seorang suami yang berkata kepada istrinya akan menceraikannya jika sang istri memotong rambutnya. Hingga pad aasatu ketika konidisi kesehatan istri menurun sehingga ia diharuskan untuk memotong rambutnya. Lalu bagaimana hukumnya, apakah perceraian tersebut sah?
  2. Janda yang ingin menikah lagi harus menunggu masa idah. Sejak kapan masa idah itu terhitung? Apakah setelag sang suami mengucapkan cerai.
  3. Bagaimana hukum istri yang dicerai ketika sedang hamil? Apakah perceraiannya sah?
  4. Hukum suamu menceraikan istri didepan keluarga sang suami tanpa ada sang istri saat mengucapkannya?
  5. Bagaimana hukum para aktor dan aktris yang berakting melakukan akad nikah? apakah akadnya sah?
  6. Apa yang harus dilakukan istri ketika suaminya suka memukul dan bermaksiat dengan perempuan lain. Suami tidak mau menceraikannya, sedangkan hak cerai ada ditangan suami?
  7. Bagaimana hukum dari nikah beda agama. Namun setalah menikah sang suami mendapatkan hidayah dan masuk islam. Bagaimana status pernikahan mereka setelah suaminya masuk Islam? Bagaimana pula status anak mereka? Apakah anak itu tetap menjadi anak sah mereka?

Jawaban Adalah:

[1]. Dalam istilah fikihnya dinamakan thalaq mu’allaq artinya perceraian yang digantungkan oleh suami dengan suatu perbuatan yang dilakukan istrinya pada masa mendatang.

Misal sang suami berkata, jika kamu pergi ke rumah si fulanah maka saya akan menceraikan kamu. Jika sang istri benar-benar pergi maka jatuhlah talak kepadanya.

Sama seperti kasus diatas bahwa sang suami yang berkata jika kamu memotong rambut maka akan saya akan menceraikan kamu. Jika sang istri benar-benar memotong rambut maka jatuhlah talak kepadanya.

Loading...

Sebagaimana Ibnu Abbas, Atha’, Jabir bin Zaid dan para ulama lainnya termasuk mazhab Syafi’i dan Hanafi serta pengikut Hambali berpendapat, bahwa talak tersebut jatuh jika sang istri melakukannya.

Maka dari itu sang suami diharapkan untuk tidak main-main dalam hal perceraian. Karena,

“Talak ini adalah suatu perbuatan halal yang paling dibenci Allah.” (HR. Abu Daud).

Apalagi jika talak dilakukan dengan cara yang sepele, karena masih bisa dilakukan dengan cara atau berkomunikasi bukan dengan nacaman.

[2]. Secara syar’i, masa idah terhitung sejak sang suami mengucapatkan talak, bukan terhitung dari pengadilan karena pengadilan itu hanya sebagai tertib administrasi saja.

[3]. Perceraian yang terjadi ketika sang istri sedang hamil adalah sah, baik cerai mati atau pun hidup. masa idahnya sampai ia melahirkan anaknya sebagaimana terdapat dalam Q.S. Ath-Thalaq ayat 4; “Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu adalah sampai mereka melahirkan.”

[4]. Perceriaan sah meskipun tidak ada isrtinya pada saat itu dan hanya disaksikan oleh orang lain. Lihat Q.S. Ath-Thalaq ayat 2.

[5]. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tiga perkara yang dilakukan sungguh-sungguh dianggap sungguhan dan yang dilakukan dengan main-main (bergurau) juga dianggap sungguhan, yaitu nikah, talak dan rujuk.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmizi)

[6]. Kebanyakan para ulama menyatakan bahwa talak, nikah dan rujuk hukumnya sah meskipun diucapkan dalam keadana bergurau.

Akan tetapi sebuah pernikahan memiliki beberapa syarat yang menjaidkan sahnya pernikahan tersebut antara lain adanya wali dari pihak perempuan, dua orang saksi, dan mahar.

Tentu saja peran pernikahan yang dimainkan oleh aktor dan aktris tersebut tidak sah, sebab peran wali wanitanya dimainkan oleh orang lain, bukan wali/orangtua yang sesungguhnya dari mempelai wanita tersebut.

[7]. Suami berhak menatuhkan talak dan menolak perminataan cerai dari sang istri. Karena sekali saja sang suami mengucapkan kata talak maka sudha terjadi perceraian.

Berbeda jika sang wanita yang mengucapkan talak, sekalipun beribu-ribu kali maka talaknya tidak berlaku. Kenapa demikian?

Karena wanita cenderung emosi dan ketika emosi ia gampang meminta cerai sehingga itulah keadidalam didalam islam, sebab seorang istri bisa menjatuhkan talak setiap kali bertengkar dan bisa juga ia akhirnya menyesal.

[8]. Meskipun hak cerai ada pasa sang suami namun sebagai istri bukan tidak bisa lepas, terutama jika sang suami zalim. Islam memberi hak kepada sang istri untuk menggugat cerai sebagai tebusan bagi sang suami yang ia benci agat suaminya menceraikannya.

Dengan kata lain, khulu’ berarti talak yang dituntut istri dengan mengembalikan mahar yang pernah diberikan suaminya. Allah berfirman,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَن يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami dan istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu (wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.” (QS. al-Baqarah : 229)

[9]. Jika terjadi hal tersebut maka sang istri bisa mengugat sang suami ke pengedilan, maka pengadilan lah yang akan memberikan keputusan kepada mereka melalui beberapa sidang.

[10]. Semua ulama sepakat bahwa haram hukumnya menikah dengan non muslim. Diantaraulam ayang sepakat adalah Imam Malik, Syafi’i, Abu Ubaid, Ahmad dan mazhab Hambali.

Pernikahan yang terjadi tidak sah secara sya’i. Ketika sang suami mendapatkan hidayah dan memeluk agama islam maka wajib hukumnya menikah lagi, sebab pernikahan yang sebelumnya tidak dilakukan dengan cara islam.

Dan anak-anak mereka mudah-mudahan menjadi anah yang sah. Semoaga kita smeua terhindar dari dosa-dosa masa lalu orang tua kita dan kesalahannya.

Seorang anak terlahirkan dalam keadaan suci dan fitrah, tidak membawa dosa warisan dari kedua orang tua mereka. [ummi-online.com]

Tags: #Suami Kasar #Suami Zalim #Tidak Mau Menceriakan