Suami, Jangan Sepelekan 3 Tanggung Jawab Ini

612 views

Ketika sudah menikah seringkali seorang istri dituntut menjadi sosok yang harus terampil, harus cetakan baik secara fisik maupun memiliki kemampuan untuk menglola rumah tangga dengan baik.

Sedangkan pernikahan itu terdapat dua orang yaitu suami dna istri yang harusnya menjadi partner yang harus saling menagisi dan harus saling melengkapi.

Seorang istri harus bisa menjaga penampilanya dihadapan suaminya dan suami ahrus meningatkan kemampuan juga potensi dirinya.

Sebaiknya suami harus selalu intropeksi diri, selalu memperbaiki diri untuk mendapatkan rumah tangga yang bahagia, sakinah mawaddah warahmah.

Suami seperti inilah akan menjadi suami yang akan dirindukan istri dan anaknya. Ia adalah sosok suami yang akan melindungi keluarganya di hari kiamat kelak.

1. Memberi Nafkah
Tugas utama seorang suami adalah mencari dan memberi nafka untuk anak-istrinya, sebagaimana firman Allah:

Loading...
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ ۚ

“… dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (men-derita) karena anaknya …” (QS. al-Baqoroh: 233)

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf:31)

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. al-Baqoroh: 228)

Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang lelaki memberi suatu nafkah kepada keluarganya karena mengharapkan (keridhaan Allah), maka itu termasuk shadaqah baginya.” (HR. Bukhari)

“Wanita yang paling besar keberkahannya adalah yang paling ringan pembiayaannya.” (Imam Ahmad dalam Musnad dan Hakim dalam Al-Mustadrak)

Jika nafkah suami yang diberikan kepada istri adalah shadaqah, maka hal tersebut harusnya menjadi motivasi sehingga suami bisa memberi nafkah terbaik untuk keluarganya.

Sebaliknya, ketika perempuan menjadi istri harus bisa meringakan pembiayaan, yang artinya berapapun pemberian suami harus digunakan semaksimal mungkin karena istri yang besar keberkahannya adalah istri yang ridha berapapun pemberian suaminya.

Termasuk istri yang ikhlas menginfaqkan hartanya demi meningkatkan taraf hidup keluarga, jika disertai dengan pengertiannya juga penhormatan maka pernikahannya akan menambahkan keharmonisan didalam rumah tangga.

2. Merawat Rumah
Ketika sudah menikah, rumah yang sudah ditempati harus dirawat. Mungkin seorang istri bisa merawat rumah, mengepel, membersihkan perabot.

Akan tetapi jika hal lainnya seperti listrik, kayu dan yang membutuhkan tenaga orang lain maka suami harus bertanggung atas semua ini.

Maka disinilah peran suami harus memiliki tanggung jawab terhadap merawat rumah tangga. Karena rumah tan berantakan tidak enak dipandang bahkan tidak akan terganggu dan tidak baik bagi kesehatan.

3. Memperbaiki Keluarga
Suami adalah pemimpin keluarg, maka suami harus bertanggung jawab atas istri dan anaknya, salah satu tugas suami yaitu memperbaiki kehidupan rumah tangga. Allah SWT telah berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) …” (QS. an-Nisa: 34)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6)

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا ، وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَا إِن يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

“… perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar. Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Mahateliti, Maha Mengenal.” (QS. an-Nisa: 34-35)

Perlakukanlah kaum wanita oleh kamu dengan perlakuan yang baik, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Dan sesungguhnya bagian yang bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian atasnya (yakni akalnya lemah). Jika kamu meluruskannya dengan paksa, niscaya kamu akan membuatnya patah. Akan tetapi jika kamu membiarkannya, maka tulang itu akan tetap bengkok. Oleh karena itu, perlakukanlah wanita itu dengan perlakuan yang baik.” (Muttafaq’alaih)

“Aisyah ra. telah menceritakan bahwa Rasulullah tidak pernahmemukul seorang wanita, seorang pelayan, dan tidak pula menggunakan tangannya memukul sesuatu, kecuali saat berjhad di jalan Allah.” (HR. Ibnu Sa’ad)

Rasulullah telah bersabda: “Wanita manapun yang meminta cerai dari suaminya tanpa alasan yang dibenarkan, maka haram baginya mencium keharuman surga.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)

Begitu indah pernikahan yang dibangun atas dasar cinta karena Allah dan membangun rumah tangga karena Allah.

Antara suami-istri harus berusaha sama-sama melakukan kebaikan untuk keluarganya.

Selalu bersabar dalam menghadapi masalah didalam pernikahan sehingga akan tercipta rumah tangga yang diidamkan semua orang karena memiliki keluarga sakinah mawaddah warahmah serta melahirkan generasi yang berakhlakul karimah. [ummi-online.com]

Tags: #Suami Bertanggung Jawab #Suami Idaman #Suami Terbaik