Suami Lebih Banyak Memberi Uang Belanja Pada Orangtua Daripada ke Istri, Ini Menurut Hukum

Pernikahan yang bahagia adalah pernikahan yang didalamnya terdapat canda-tawa, marah, cemburu, perhatian yang disebakan oleh perasaan cinta suami-istri sehingga menimbulkan perasaan memiliki terhadap satu sama lain.

Namun ada kalanya permasalahan rumah tangga tidak pernah berhenti datang menghampiri sehingga kita harus berusaha mempertahankan rumah tangga yang sudah dibina bersama.

Contoh ketika suami lebih memenuhi kebutuhan orang tuanya dair pada istri dan anak-anaknya.

Walau pada dasarnya suami masih memiliki kewajiban kepada orang tuanya namun jika lebih banyak memenuhi kebutuhan orang tuanya tentu sang istri merasa sedih dan kecewa.

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Loading...

Sebagai istri kita harus membayangkan menjadi suami, bagaiman ajika kita yang ada diposisinya sedangkan keluarga kita masih membutuhkan kita sementara pasangan kita merasa kebeeratan.

Maka dari itu kita sebagai istri harus bisa menyadari dan mau berbagi pahala apalagi kepada keluarga sang suami, sebab walau bagaimana pun dia adalah keluarga kita juga.

Lantas bagaimana jika kebutuhan keluarganya dinomorduakan? itulah pentingnya berkomunikasi dengan pasangan, bicarakan jalan keluarnya.

Mengatur suasa yang kondusif untuk mengobrol dengan pasangan karena awal yang baik diciptakan dari komunikasi yang baik.

Berbicaralah dengan cara yang baik, bertermakasihlah atas semua yang sudah suami berikan selama ini.

Dan jangan sampai menggunakan kalimat yang membuat suami tersinggung apalagi terkessan menuduh sehingga komunikasi yang terjadi tidak sesuai harapan.

Negara pun turut mengatur tentang hak dan kewajiban suami dan istri.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam Pasal 30 sampai dengan Pasal 34, mengatur tentang hak dan kewajiban suami-istri, sebagaimana kami kutipkan di bawah ini:

Pasal 30

  • Suami-istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat.

Pasal 34

  1. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
  2. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.

Tujuan menikah bukan untuk bercerai maka dari itu tetaplah menjaga keutuhan rumah tangga walau ada badai yang mencoba membutanya karam.

Komunikasikan dan cari solusi terbikanya sehingga apapun masalahnya biasa diatasi. [ummi-online.com]

Tags: #Kebutuhan Keluarga #Suami Menafkahi #Tidak Menafkahi