Tips Pernikahan Jarak Jauh: Untuk yang Sering Ditinggal Suami ke Luar Kota

Pernikahan adalah hal yang sangat sakral sehingga tidak hanya sah dimata hukum dan agama melainkan ada banyak hal yang menjadikan pernikahan sakral.

Menikah tidak hanya menyatukan dua insan melainkan harus menjalani kehidupan sevata finansial.

Yang paling penting dan harus diperhatikan oleh pasangan suami-istri bukanlah memperkuat pondasi keuangan melainkan yang harus diperkuat adalah ikatan emosiaonal batin antara suami dan istri.

Sehingga dalam keadaan apapun, suka maupun duka harus tetap dirasakan bersama-sama bukan hanya sepihak saja.

Jika beru menikah tentu akan ada banyak pekerjaan rumah yang harus dijalani, dibenahi dan mencari jalan keluar.

Bukan hanya tentang beberapa masalah saja suami istri harus benar-benar memahami kondisi keluarganya dengan baik.

Loading...

Karena Islam pun tidak menyukai adanya ketimpangan didalam rumah tangga, selama masih bisa diperbaiki maka harus dicarikan solusi.

Salah satunya adalah hubungan jarak jauh yang harus dijalani oleh suami-istri. Walau dianggap biasa namun hubungan jarak jauh ini memberi efek yang sangat luar biasa didalam pernikahannya.

Ketika harus menjalani hubungan jarak jauh maka pernikahan ini akan menghadapi tantangan yang sangat besar. Ada beberapa asalan kenapa istri tidak bisa ikut sang suami.

Mungkin karena faktor tempat tinggal suami, atau karena gaji yang belum memadai sehingga tidak bisa memberikan biaya lebih dan layak jika harus ikut suami, atau profesi yang tidak bissa memungkinkan mengajak keluarga bekerja.

Akan tetapi ada satu hal yang harus diperhatikan yaitu suami harus bekerja disuatu tempat yang memungkinkan bisa membawa istri dan anak ikut bersama kenapa tidak?

Karena pada dasarnya tujuan pernikahan didalam islam adalah terwujudnya rasa nyama, aman, tenang, sakinah mawaddah warahmah sebagaimana mendapatkan kasih sayang didalam pernikahannya.

Sebagaimana terdapat dalam ayat al-Qur’an yang artinya:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. ar-Rum: 21).

Kebersamaan suami-istri dalam satu atap memang sangat penting sehingga didalam rumah tangga tersebut akan mendapatkan kasih sayang, kebutuhan biologis, saling membantu, saling mendukung terutama ketika ada masalah dan ketika rapuh.

Namun jika memang harus terpaksa berpisah maka menunaikan kewajiban sebagai pasangan suami-istri harus tetap ada bagaimana pun caranya.

Di dalam Islam sebenarnya ada salah satu wejangan pernikahan yang diberikan oleh ustadz Wahyudin di Surakarta,

Menurutnya, pernikahan itu akan terbentuk sakinah mawaddah warahmah ketika pasangannya mencari rezeki didekat rumahnya.

Hal ini menunjukkan bahwa, jika mungkin maka pasangan suami-istri itu memang baiknya hidup bersama dan berdampingan untuk saling menjaga, saling merasa nyaman serta bisa meluapkan perasaan sayang karena akan lebih mudah ketika bersama.

Akan tetapi jika pasangan suami-istri memang harus terpisah menjalani cinta jarak jauh, berapa lamakah kira-kira waktu paling lama untuk mereka tidak bertemu?

Syaikh Dr Su’ad Shalih mengatakan batas tidak bertemu antara suami dan istri adalah selama empat bulan sedangkan menurut ulama Hanbali batasnya adalah 6 bulan. Batas inilah perempuan bisa bertahan berpisah dari suami.

Kenapa dalam islam hal ini dibalas? Ada sebuah kisah dari Khalifah Umar bin Khatthab ketika berkeliling tengah malam untuk melihat bagaimana kondisi masyarakatnya. Tiba-tiba ada suara wanita yang sedang meratap:

Wanita tersebut berkata, Malam ini panjang, berselimut dingin dan kegelapan; Saya tidur sendiri tanpa teman, Demi Allah, seandainya bukan karena takut kepada-Nya, niscaya ranjang itu sudah bergoyang.

Ketika umar menyelidiki ternyata wanita tersebut sudah lama ditinggal oleh suaminya yang bertugas dinas.

Kemudian umar bertanya kepada putrinya Hafsah janda Rasulullah SAW mengenai berapa lama wanita bisa tahan ketika ditinggal oleh suaminya?

Ia menjawab 4 bulan. Sehingga hal ini membuat umar membuat peraturan jika ada tentara yang melawan musuh atau menjaga perbatasan maka ia harus pulang dan digantikan dengan yang lain jika sudah sampai empat bulan atau kurang dari 4 bulan.

Akan tetapi jika sang istri rela suaminya pergi lebih dari 4 bulan maka tidak masalah selama keduanya sama-sama sepakat dan ridha.

Jika Pasangann Suami-Istri Harus Menjalani Hubungan Jarak Jauh Maka Hal-hal Berikut Ini Harus Diperhatikan

1. Ridho
Jangan menyepelehkan perasaan ikhlas dan ridha menjadi kewajiban salah satu pasangan saja, keduanya harus sama-sama ridha dan ikhlas.

Sehingga komuniksi antara keduanya bisa berjalan baik dan akan mendapatkan keharmonisan didalam rumah tangga walau harus menjalani hubungan jarak jauh.

2. Luangkan Waktu Untuk Bertemu atau Berkunjung
Jika ada waktu luang dan ada hari libur maka lebih baik sepakat bertemu, maka hal ini akan membuat hubungan lebih baik. Jika suami terlalu sibuk maka istrilah yang harus mendatangi suaminya.

3. Cobalah Ikuti Anjuran Umar bin Khaththab Ini
Cobalah ikuti anjuran Umar Bin Khattab adalah maksimal berpisah selama 4 bulan, akan tetapi jika memang darurat (keadaan perang, kondisi gawat di suatu daerah konflik, atau mengerjakan proyek yang tak bisa ditinggalkan).

Maka hal ini menjadi pengecualiaan dan lakukan komunikasi yang lebih intens lagi dengan istri.

Jika tidak ada masalah atau hal lainnya maka lebih baik jangan sampai lebih dari 4 bulan berpisah.

4. Hati-hati Dengan Sosial Media 
Harus berhati-hati dengan dunia maya karena bisa menjadi racun didalam hubungan rumah tangga yang bisa menghancurkan pernikahan.

Sebab hubungan jarak jauh bisa menyebabkan resiko yang sangat besar, sebagai pasangan suami-istri harus sama-sama menjaga komitmen didalam pernikahannya agar tidak mudah goyah.

5. Jika Memungkinkan Istri Menemani Suami Bertugas
Jika tidak ada alasan yang sangat penting maka sebaiknya seorang istri harus menemani suaminya bertugas. Meski di pedalaman sekalipun istri harus menemani suaminya.

Sebab pada dasarnya dukungan istri serta keluarga sangatlah penting untuk memicu kesuksesan dan yang terpenting memicu keharmonisan didalam rumah tangga.

Syurga menjadi hadiah yang paling indah bagi istri yang mau berkorban untuk kebahagiaan dan kenyamanan sang suami.

Sebab banyak kisah dari pasangan yang terpaksa bercerai hanya karena alasan pekerjaan semata padahal sebenarnya masih bisa diperbaiki dan dikomunikasikan bersama.

Ketahuilah bahwa hubungan jarak jauh memang memiliki resiko yang lebih tinggi maka dari itu harus bisa menjaga komitmen sehingga resiko dan masalah didalam pernikahannya bisa diperkecil.

Maka selain menjaga komitmen maka harus memperbanyak doa dan memohon kepada Allah agar pernikahannya selalu dilindungi dan langgeng walau hubungannya jarak jauh. [ummi-online.com]

Tags: #Jarak Jauh #LDR #Menjalani LDR #Pernikahan