Tujuan I’tikaf yang Harus Umat Islam Tahu

968 views

Sebagai umat islam kita dianjurkan untuk beri’tikaf namun masih banyak dari kita yang tidak mengetahui apa arti dari beri’tif tersebut?

A. Anjuran Rasulullah SAW
Karena i’tikaf sering dikerjakan oleh beliau bahkan dalilnya dengan mudah kita jumpai. Namun sayangnya sunnah ini sudah semakin redup dan kebanyakan orang Islam tidak mengerjakannya, kecuali yang benar-benar dirahmati oleh Allah SWT.

Setidakny ada 4 penyebab kenapa umat Islam semakin menjauhi sunnah yang sangat dianjurkan ini:

[1]. Karena lemahnya keimanan seseorang bahkan banyak yang memiliki iman yang tidak kuat

[2].Terlalu menikmati hawa nafsunya dan mencintai dunia secara berlebihan, sehingga itulah yang membuatnya tidak bisa menjauhi kelezatan dunia

[3]. Meremehkan adanya surga sehingga kebanyakan orang santai bahkan mengabaikan. Mereka tidak ingin mengerjakan i’tikaf meskipun untuk menggapai keridhaan Allah SWT.

Loading...

Barangsiapa mengetahui keagungan surga serta kenikmatannya, maka jiwa yang mulia akan berlomba untuk menggapainya. Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَلا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ غَالِيَةٌ ، أَلا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ (رواه الترمذي وصححه الألباني، رقم 2450)

“Ketahuilahbahwa barang dagangan Allah itu mahal, ketahuilah barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Tirmizi, dinyatakan shahih oleh Al-Albany, 2450)

[4]. Mencintai Nabi Muhammad hanya sebatas dzahirnya saja tanpa diiringi perbuatan. Padahal salah satu sunah nabi diantaranya adalah i’tikaf. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً (سورة الأحزاب: 21)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat 3/756 ini ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa hal tersebut menjadi landasan pokok untuk mencontoh Nabi Muhammad SAW dalam segala hal serta kondisi, baik dalam dalam perkataan maupun dalam perbuatan.

Ketika kebanyakan orang meninggalkan i’tikaf sebagian ulama salaf merasa heran karena Rasulullah SAW selalu melaksanakannya.

Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sangat mengherankan umat Islam yang meningalkan I’tikaf. Padahal Nabi sallallahu laihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya sejak masuk Madinah sampai Allah cabut nyawanya.”

B. Rasulullah Mengabiskan Akhir hayatnya Dengan Beri’tikaf Sepuluh Malam Terkahir Pada Bulan Ramadahan
I’tikaf yang dilakukan pada hari-hari tertentu laksana training yang akan memberi hasil yang psitif hingga dapat dirasakan secara alangusng oleh kita yang melaksanakan i’tikaf dihari atau malam i’tikaf.

Karena sebetulnya kita sangat membutuhkan sehingga kita harus menghidupkan sunnah ini dengan cara yang telah dianjurkan oleh rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Karena sesungguhnya kemenanganlah yang mereka dapatkan ketika mereka berpegang teguh pada sunnah ini karena sekarang ii sudah banyak yang melakukan kerusakan dan lalai terhadap anjuran Rasulullah SAW.

C. Ingin Mendapatkan Malam Lailatul Qadar
Diriwayatkan oleh Muslim, 1167 dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu’anhu berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوَّلَ مِنْ رَمَضَانَ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ فِي قُبَّةٍ تُرْكِيَّةٍ (أي : خيمة صغيرة) عَلَى سُدَّتِهَا (أي : بابها) حَصِيرٌ قَالَ : فَأَخَذَ الْحَصِيرَ بِيَدِهِ فَنَحَّاهَا فِي نَاحِيَةِ الْقُبَّةِ ، ثُمَّ أَطْلَعَ رَأْسَهُ فَكَلَّمَ النَّاسَ ، فَدَنَوْا مِنْهُ ، فَقَالَ : إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ، ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِي : إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ ، فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ

“Sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh awal Ramadan. Kemudian beri’tikaf di sepuluh tengah Ramadan di tenda kecil. Dipintunya ada tikar. Berkata (Abu Said): “Beliau mengambil tikar dengan tangannya dan beliau bentangkan di sekitar tenda (Kubbah). Kemudian beliau mengeluarkan kepalanya dan berbicara dengan orang-orang. Dan orang-orang pada mendekat kepada beliau. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya saya beri’tikaf di sepuluh pertama untuk mendapatkan malam ini (lailatul qadar). Kemudian saya beri’tikaf di sepuluh pertengahan, kemudian didatangkan kepadaku dan dikatakan kepadaku, “Sesungguhnya ia (lailatul Qadar) berada di sepuluh akhir. Siapa di antara kalian yang ingin beri’tikaf, maka beri’tikaflah (pada sepuluh akhir). Maka orang-orang berdi’tikaf bersama beliau.”

Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, diantaranya,

1. Tujuan I’tikaf Nabi Muhammad Untuk Mencari Lailatul Qadar
Yang siap dilaksanakan dan dihidupkan dengan beribadah Karena Lailatul Qadar adalah malam yang agung sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Lailatul Qadar itu lebih mulia dibanding dari seribu bulan.” (QS. al-Qadar: 3)

2. Kesungguhan Nabi Muhammad Meraih Lailatu Qadar
Rasulullah begitu sungguh-sungguh dalam mencari malam Lailatul Qadar sebelum mengetahuinya, sehingga beliau memulai pada sepuluh awal, sepuluh pertengahan hingga sepuluh akhir bulan. Hal ini adalah kunci dari dari kesungguhan Rasulullah untuk menggapai Lailatul Qadar

3. Kesungguhan Nabi Muhammad Diikuti Para Sahabat
Para Sahabat Rasulullah pun mengikuti beliau dengan memulai hingga akhir bulan bersama beliau. Hal itulah yang menunjukkan kesungguhan dalam mengerjakan apa yang Rasulullah kerjakan.

4. Nabi Muhammad Memberi Pilihan
Karena kasih sayang Nabi Muhammad kepada sahabat, saat tahu para sahabat sudah cukup capek dalam beri’tikaf Rasulullah pun memebri pilihan.

Barang siapa yang ingin meneruskan ber’iktikaf berasamanya tetap beri’tikaf dan jika ingin keluar, dan Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin beri’tikaf, silahkan beri’tikaf.”

Tidak hanya itu saja, i’tikaf juga memiliki manfaat dan tujuan lain sebagai berikut:

  1. Memutuskan hubungan dengan manusia sehingga menyendiri jauh lebih sempurna bersama Allah
  2. Semaksimal mungkin memperbaiki hati untuk menghadap Allah SWT
  3. Memutuskan hubungan serta mengkhususkan hanya untuk sholat, berdzikir, berdoa dan tilawah al-Qur’an
  4. Menjaga puasa dari semua hal yang bisa mempengaruhi dirinya, keinginanya serta godaan syahwatnya
  5. Mengurangi perkara Mubah dari urusan dunia dan lebih memeprbanyak urusan akhirat sepdat mungkin.

Meminimalisir perkara mubah dari urusan dunia dan lebih banyak zuhud sedapat mungkin. [islamqa.info]

Tags: #Pelaksanaan i'tikaf #Tujuan I'tikaf